Trombolisis Trombektomi

Bab 4 — Trombolisis Arteri Perifer

Referensi: Bab 4 Peripheral Arterial Thrombolysis, hal. buku 57–70. Bab 4

Pesan utama Semua agen mengubah plasminogen menjadi plasmin; yang membedakan adalah spesifisitas fibrin, waktu paruh, dan dosis — sedangkan keputusan berhenti ditentukan aliran antegrade, perdarahan, dan batas 48 jam.

Pilih Agen: Kelas Kerja

  • Semua agen bekerja dengan mengubah plasminogen menjadi plasmin; plasmin memecah fibrin (bekuan) dan fibrinogen (sirkulasi).
  • Spesifisitas fibrin menentukan apakah kerja agen terbatas di permukaan bekuan atau meluas menjadi litik sistemik.
  • Streptokinase (SK): tidak aktif sendiri; harus membentuk kompleks ekuimolar dengan plasminogen atau plasmin; dua molekul plasminogen terpakai per reaksi; tidak spesifik fibrin.
  • Urokinase (UK): aktivator plasminogen langsung tanpa perantara kompleks; tanpa antibodi pra-bentuk; tetap tidak spesifik fibrin sehingga menimbulkan keadaan litik sistemik.
  • r-UK: berat molekul lebih tinggi dan t½ lebih pendek dari UK alami, tetapi efek klinis dan keamanan dianggap setara.
  • Pro-urokinase (pro-UK): zymogen inert di plasma; diaktifkan kallikrein atau plasmin menjadi UK dua-rantai; relatif spesifik fibrin.
  • Pro-UK memberi amplifikasi: plasmin yang terbentuk mengubah lebih banyak pro-UK menjadi UK aktif, siklus berulang.
  • Alteplase (rt-PA): afinitas sekaligus spesifisitas fibrin tinggi; di plasma hampir tidak mengaktifkan plasminogen.
  • rt-PA bekerja karena ikatan t-PA dan plasminogen pada permukaan fibrin memicu perubahan konformasi kedua molekul, sehingga konversi plasminogen menjadi plasmin sangat dipercepat.
  • TNK-tPA: tiga modifikasi pada kringle 1 dan domain protease menaikkan t½ dan spesifisitas fibrin; deplesi fibrinogen lebih kecil; cukup bolus tunggal.
  • Reteplase: hanya kringle 2 dan domain protease (355 dari 527 asam amino t-PA); afinitas fibrin hanya 30% t-PA, mirip UK.
  • Afinitas fibrin reteplase yang rendah diduga menurunkan perdarahan jauh; lisis bekuan tua kaya platelet juga lebih buruk.
  • Staphylokinase: seperti SK tidak aktif dan harus berikatan plasminogen; relatif spesifik fibrin; tanpa deplesi fibrinogen; antigenik, ditekan dengan mutan rekombinan.
  • Agen eksperimental: batPA (vampire bat), fibrolase (bisa ular copperhead), alfimeprase — baru fase I, data klinis belum tersedia.
Tabel 4-2 — Properti agen trombolitik [ Bab 4, hal. buku 59]
AgenBerat molekulPlasma t½ (menit)Mekanisme / properti
Streptokinase (SK)48.00016 / 90Kompleks dengan plasminogen untuk memperoleh aktivitas; tidak spesifik fibrin
Urokinase (UK)32.000 / 54.00014Aktivator plasminogen langsung; tidak spesifik fibrin
r-Urokinase32.0007Efek klinis setara UK alami
Pro-urokinase49.0007Aktivitas intrinsik kecil; diubah menjadi urokinase; relatif spesifik fibrin
Alteplase (rt-PA)68.0003,5Afinitas dan spesifisitas fibrin tinggi
Reteplase65.00015t-PA terpotong; afinitas fibrin hanya 30% t-PA, mirip UK
Tenecteplase (TNK)39.00014t-PA termodifikasi; spesifisitas fibrin lebih tinggi dari rt-PA; cukup bolus tunggal
Klasifikasi agen trombolitik menurut spesifisitas fibrin Agen tanpa spesifisitas fibrin yaitu streptokinase dan urokinase menimbulkan litik sistemik, sedangkan alteplase, tenecteplase, dan reteplase bekerja lebih terbatas di permukaan bekuan. Tanpa spesifisitas fibrin Spesifisitas fibrin tinggi SK UK Alteplase TNK Reteplase 30% afinitas fibrin t-PA
Diagram 4-A — Dua kelas kerja: litik sistemik (SK, UK) versus kerja terbatas di bekuan (rt-PA, TNK, dan reteplase yang hanya 30%). [ Bab 4, hal. buku 59–61]

Angka & Dosis Kunci

  • SK hanya tersedia sebagai Streptase, vial 750.000 atau 1.500.000 IU; antibodi pra-bentuk dinetralkan dengan bolus awal besar, sebagian peneliti mengukur titer lebih dahulu.
  • UK tersedia sebagai Abbokinase, vial 250.000 IU; metabolisme terutama di hati; direkonstitusi dengan air steril non-bakteriostatik lalu diencerkan dalam salin.
  • UK perlu heparin penuh (aPTT 1,5–2× kontrol); titrasi heparin sering sulit.
  • Konsentrasi UK disesuaikan agar kecepatan infus minimal 30 mL/jam per port dan total tidak lebih dari 120 mL/jam.
  • Protokol penulis: 0,48 mg/jam (infus dosis rendah, 4 mg/500 mL salin pada 60 mL/jam) atau 0,96 mg/jam (dosis tinggi, 4 mg/250 mL pada 60 mL/jam).
  • Pada rt-PA diberikan heparin subterapeutik 300–500 IU/jam; aPTT tidak diikuti selama terapi.
  • Reteplase efektif pada dosis 0,2–0,5 U/jam; lisis terjadi lebih cepat dan t½ lebih panjang dibanding alteplase.
  • TNK memberi spesifisitas fibrin lebih tinggi dan deplesi fibrinogen lebih sedikit dibanding rt-PA; keunggulan utamanya kemudahan pemberian (bolus).
  • Bolus rt-PA mempersingkat durasi terapi dan mungkin menguntungkan pada tungkai iskemik akut, tetapi risiko perdarahannya lebih tinggi dari infus dosis rendah.
Tabel 4-3 — Skema dosis pada trombolisis terarah kateter [ Bab 4, hal. buku 65]
AgenSkemaDosis
SKInfus bertahap (stepwise)1.000–3.000 IU setiap 2, 3, 5–15 menit; atau 3.000–4.000 IU setiap 3–5 menit
SKInfus kontinu5.000–10.000 IU/jam
UKDosis rendah50.000 IU/jam
UKDosis tinggi120.000 IU/jam
UKInfus berjenjang240.000 IU/jam 2 jam → 120.000 IU/jam 2 jam → 60.000 IU/jam sampai lisis
UKLacing intrathrombus60.000–250.000 IU, lalu 50.000 IU/jam
rt-PAInfus kontinu0,05–0,1 mg/kg/jam dan 0,25–10 mg/jam (maks. 30 mg); lazim 0,5 mg/jam
rt-PALacing3×5 mg (interval 5–10 menit), lalu 0,05 mg/kg/jam
UK / rt-PAPulse sprayUK 25.000 IU/mL; rt-PA 0,5 mg/mL; 0,2 mL setiap 30 detik selama 20 menit, lalu setiap 60 detik

Urutan Tindakan: Evaluasi, Akses, Infus

  • Semua pasien oklusi arteri akut: periksa darah lengkap dan tes koagulasi sebagai baseline.
  • Perhatikan aspirin atau clopidogrel — keduanya menaikkan risiko perdarahan tempat pungsi.
  • Pasien warfarin: pilih mengoreksi INR ke 1,5 atau kurang, atau lanjut pakai teknik micropuncture.
  • Pada iskemia berat: teknik micropuncture 4-Fr, pastikan pungsi single-wall; bila beberapa jam dapat ditunggu, beri fresh frozen plasma untuk memulihkan INR.
  • Jangan beri vitamin K rutin untuk membalik antikoagulasi — dosis lebih dari trivialitas membuat reantikoagulasi berikutnya sangat sulit.
  • Akses ditentukan pemeriksaan nadi perifer dan merupakan prediktor komplikasi terapi trombolitik.
  • Nadi femoralis bilateral teraba: mulai dari arteri femoralis komunis kontralateral (sisi tidak terlibat).
  • Nadi femoralis kontralateral lemah atau absen, atau ada graft aortofemoral: pilih akses antegrade ipsilateral atau pendekatan brakialis kiri.
  • Kateter ditempatkan di bagian paling distal trombus, lalu ditarik ke proksimal saat agen diinfuskan — tujuannya menjenuhkan seluruh panjang trombus.
  • Kateter berlubang samping atau wire infus memberi permukaan kontak dan paparan agen paling luas.
  • Metode infus yang dipakai: bolus intrathrombus lalu infus dosis rendah kontinu; infus bertahap (stepwise); dan pulse-spray pharmacomechanical.
  • Infus intrathrombus sepanjang lesi adalah praktik terkini karena peluang lisis lengkapnya lebih besar.
  • Stepwise: kateter di trombus proksimal, dosis tetap periode singkat, majukan kateter, ulangi — melelahkan dan pasien harus tetap di ruang angiografi.
  • Pulse-spray: agen dipaksa masuk untuk memecah bekuan dan memperluas permukaan kerja enzim.
  • Setelah aliran antegrade terbentuk, pulse-spray tidak lagi lebih baik dari infus lambat kontinu.
  • Metode pemberian yang paling optimal belum pernah diuji pada uji prospektif besar.
Alur trombolisis terarah kateter dalam empat tahap Tahap satu kateter ditempatkan pada trombus proksimal. Tahap dua agen diinfuskan sepanjang trombus. Tahap tiga kontrol angiografi pada 4 sampai 8 jam. Tahap empat aliran antegrade pulih dan sisa emboli distal dipertimbangkan untuk trombektomi mekanik. 1 Kateter ditempatkan pada trombus proksimal (5-Fr Multipurpose, lubang samping 19-gauge). 2 Agen diinfuskan sepanjang trombus; kateter ditarik proksimal (lacing / infus kontinu). 3 Kontrol angiografi 4–8 jam (iskemia berat) atau 12 jam; geser kateter bila perlu. 4 Aliran antegrade pulih; sisa emboli distal → pertimbangkan trombektomi mekanik.
Animasi 4-B — Empat tahap trombolisis terarah kateter: penempatan, lacing sepanjang trombus, kontrol angiografi, dan pemulihan aliran. [ Bab 4, hal. buku 63–65]
Gambar 4-1: kateter infus 5-Fr Multipurpose dengan banyak lubang samping dari ujung jarum 19-gauge
Gambar 4-1 — Kateter infus 5-Fr Multipurpose dengan banyak lubang samping buatan dari ujung jarum 19-gauge — memberi paparan agen sepanjang lesi. [ Bab 4, hal. buku 64]

Kapan Hentikan, Jebakan & Komplikasi

  • Hentikan bila aliran antegrade melintas arteri target atau bypass graft.
  • Hentikan bila sisa mural thrombus tidak lagi menghambat dan tidak ada trombus bermakna di outflow bed.
  • Hentikan lebih awal bila muncul komplikasi perdarahan.
  • Batas tradisional penghentian 48 jam; risiko perdarahan meningkat tajam melewati titik ini.
  • Sebagian operator menghentikan bila fibrinogen turun di bawah 100 mg/dL, tetapi fibrinogen normal tidak mengecualikan perdarahan.
  • Pemantauan: hemoglobin atau hematokrit harian (deteksi perdarahan okult), fungsi ginjal dan produksi urin.
  • Sekitar 50% komplikasi perdarahan terjadi selama prosedur; hematoma tempat pungsi dilaporkan 12–17%.
  • Bila perdarahan dari tempat akses menjadi masalah: naikkan ukuran kateter atau pasang sheath vaskular di sekeliling kateter.
  • Perdarahan retroperitoneal atau intraabdominal dapat muncul spontan; nyeri perut atau punggung, atau anemia mendadak tanpa sumber jelas, harus memicu pencarian hematoma.
  • Perdarahan gastrointestinal dilaporkan 5–10%; hematuria makroskopik jarang dan bisa menjadi tanda pertama tumor buli atau ginjal.
  • Embolisasi distal atau ekstensi trombus terjadi pada 8–12% tungkai yang menjalani trombolisis intra-arterial.
  • Sebagian besar embolisasi distal akibatnya kecil dan tertangani dengan melanjutkan trombolisis; perburukan iskemik akut pada seperempat kasus dan mungkin perlu aspirasi trombus atau operasi.
  • Infeksi tempat kateter adalah komplikasi serius trombolisis berkepanjangan: pasien dengan trombolisis lebih dari 72 jam mendapat antibiotik profilaksis.
  • Ganti sheath sebelum memasang stent untuk lesi dasar, terutama bila sheath sudah terpasang lama.
  • Trombus residu yang resisten lisis: pertimbangkan aspirasi trombektomi.
  • Setelah lisis selesai, selalu cari dan koreksi lesi penyebab oklusi.
  • Antikoagulasi dilanjutkan setelah trombolisis sampai penyebab oklusi dikoreksi; bila tidak ditemukan penyebab, pertimbangkan antikoagulasi jangka panjang.
  • Aspirin dilanjutkan atau dimulai sesegera mungkin bila tidak ada kontraindikasi.
Empat alasan menghentikan infus trombolitik Situasi aliran antegrade sudah melintas target dan sisa trombus tidak menghambat menjadi alasan utama berhenti. Komplikasi perdarahan menghentikan lebih awal. Infus melewati 48 jam dan fibrinogen di bawah 100 miligram per desiliter menjadi alasan tambahan. Aliran antegrade melintas target? Hentikan, cari lesi dasar Perdarahan bermakna muncul? Hentikan lebih awal Infus sudah melewati 48 jam? Hentikan Fibrinogen di bawah 100 mg/dL? Pertimbangkan hentikan
Diagram 4-C — Empat pemicu penghentian infus; aliran antegrade dan perdarahan adalah penentu utama. [ Bab 4, hal. buku 65–66]

Trombolisis atau Operasi: Pilih Mana

  • Trombolisis arteri perifer dianggap tata laksana awal yang tepat pada oklusi akut arteri tungkai atau bypass graft.
  • Sebelum memulai, manfaat trombolisis harus selalu ditimbang terhadap operasi dan risiko perdarahan akibat fibrinolisis.
  • Rochester: 114 pasien iskemia mengancam tungkai berdurasi kurang dari 7 hari, acak trombolisis urokinase versus operasi segera.
  • Rochester hasil 1 tahun: bebas amputasi 75% (trombolisis) versus 52% (operasi), berbeda bermakna terutama karena komplikasi kardiopulmoner lebih sedikit.
  • STILE: 393 pasien oklusi non-embolik arteri native atau bypass graft, durasi sampai 6 bulan, acak operasi optimal versus trombolisis terarah kateter (rt-PA atau UK).
  • STILE: laju endpoint komposit lebih tinggi pada trombolisis, tetapi amputasi dan kematian sebagai endpoint objektif setara.
  • STILE subgrup arteri native: amputasi mayor 10% (trombolisis) versus 0% (operasi) pada 1 tahun, p=0,0024 — menang operasi.
  • STILE subgrup oklusi graft: amputasi lebih rendah dengan trombolisis (p=0,026) — menang trombolisis.
  • Kesimpulan STILE: trombolisis paling bermanfaat pada oklusi bypass graft akut berumur kurang dari 14 hari.
  • TOPAS: 544 pasien (setelah uji pendahuluan 213 pasien) acak r-UK versus operasi primer.
  • TOPAS hasil 1 tahun: bebas amputasi 68,2% (r-UK) versus 68,8% (operasi) — praktis identik.
  • TOPAS tetap bermakna: pada 6 bulan 31,5% pasien trombolisis hidup tanpa amputasi hanya dengan tindakan perkutan; pada 1 tahun masih 25,7%.
  • Konsensus Working Party 2003: trombolisis kateter sah sebagai tata laksana awal iskemia tungkai akut, dengan angka amputasi dan mortalitas setara operasi.
  • Lisis yang berhasil umumnya membuka lesi penyebab, yang kemudian ditangani pada langkah kedua secara perkutan atau bedah.
  • Jebakan: jangan menganggap trombolisis menang mutlak — pada oklusi arteri native, hasil operasi lebih baik untuk amputasi.
Gambar 4-2: oklusi embolik arteri femoralis superfisialis kiri sebelum dan sesudah trombolisis
Gambar 4-2 — Oklusi embolik SFA kiri: A angiografi awal, B 12 jam pasca infus streptokinase 5.000 IU/jam — bekuan hilang tanpa stenosis bermakna. [ Bab 4, hal. buku 66]
Gambar 4-3: oklusi trombotik arteri femoralis superfisialis kiri sebelum dan sesudah trombolisis lokal
Gambar 4-3 — Oklusi trombotik SFA kiri: A awal, B setelah trombolisis lokal t-PA 0,5 mg/jam — sisa bekuan diaspirasi dan lesi dasar dilarutkan dengan balon. [ Bab 4, hal. buku 67]

Perbandingan langsung antaragen

  • Uji terbuka 60 pasien dengan onset atau perburukan tungkai baru: lisis intra-arterial rt-PA 100%, streptokinase intra-arterial 80% (p<0,04), rt-PA intravena 45% (p<0,01).
  • Penyelamatan tungkai 30 hari berturut-turut 80%, 60%, dan 45%.
  • Uji acak 32 pasien: lisis lebih cepat dengan rt-PA dibanding urokinase, tetapi laju lisis 24 jam dan keberhasilan klinis 30 hari serupa.
  • STILE (rt-PA versus urokinase): efikasi dan keamanan dilaporkan serupa.
  • Studi Jerman 120 pasien oklusi infrainguinal: lisis berhasil sedikit lebih baik pada rt-PA (p<0,05), tetapi hematoma lokal lebih sering.
  • PURPOSE (pro-urokinase versus urokinase, endpoint lisis lengkap): lisis tertinggi pada dosis tertinggi yang diuji, 8 mg/jam selama 8 jam lalu 0,5 mg/jam, dengan konsekuensi perdarahan sedikit lebih banyak dan fibrinogen turun.
  • Kesimpulan keseluruhan: tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa satu agen lebih unggul untuk trombolisis terarah kateter pada efikasi maupun keamanan.

Perdarahan dan komplikasi

  • Berridge dkk. (19 seri prospektif 1974–1988, 1.401 pasien): stroke hemoragik 1% (14 dari 1.401), perdarahan mayor 5,1%, perdarahan minor 14,8%; tanpa kelompok kontrol.
  • British Thrombolysis Study Group: stroke 2,3% (27 dari 1.157).
  • Uji acak trombolisis versus operasi: perdarahan intrakranial 1,2% (STILE), 2,1% (TOPAS-I), 1,6% (TOPAS-II).
  • Pada TOPAS-II, infus heparin bersamaan dihentikan setelah 62 pasien pertama karena angka perdarahan intrakranial 4,8%; pada 210 pasien berikutnya hanya satu episode.
  • STILE tidak menemukan perbedaan komplikasi perdarahan antara alteplase dan urokinase.

Alergi dan antigenisitas streptokinase

  • Antibodi pra-bentuk ada pada semua pasien yang pernah terinfeksi Streptococcus; paparan ulang dapat menaikkan titer sehingga menetralkan SK eksogen.
  • Reaksi alergi jarang, biasanya flushing, vasodilatasi, ruam, dan hipotensi; responsif terhadap penghentian infus ditambah hidrokortison dan antihistamin.
  • Anafilaksis sangat jarang; bronkospasme dan edema periorbital termasuk reaksi yang dilaporkan.
  • Komplikasi perdarahan SK diduga lebih tinggi daripada UK atau rt-PA, antara lain karena kerja sistemik pada trombus yang menutup defek vaskular dan generasi plasmin bebas.
  • Karena ketidakpastian dosis di samping masalah antibodi, SK menjadi kurang populer walau harganya jauh lebih murah.

Antikoagulasi dan tindakan tambahan

  • Heparin selama trombolisis membatasi trombosis sekitar kateter; dapat diberikan sistemik atau di sekitar kateter lewat sheath proksimal.
  • Setelah trombolisis, antikoagulasi dilanjutkan sampai penyebab oklusi dikoreksi.
  • Terapi antitrombin atau antiplatelet adjuvan diperlukan untuk hasil yang aman dan bertahan.

Bab 5 — Trombektomi Mekanik Perkutan

Referensi: Bab 5 Percutaneous Mechanical Thrombectomy, hal. buku 71–86. Bab 5

Pesan utama Trombektomi mekanik dan trombolisis bersifat komplementer: mekanik mengangkat bekuan akut dengan cepat dan menurunkan dosis litik, sedangkan litik menjangkau trombus tua, melekat, dan emboli distal yang tidak terjangkau perangkat.

Prinsip & Indikasi

  • PMT (percutaneous mechanical thrombectomy) = pembersihan cepat trombus akut di arteri, vena, dan graft vaskular dengan metode transluminal perkutan.
  • PMT menjadi alternatif tindakan trombektomi balon terbuka yang diperkenalkan Fogarty pada 1963 dan menjadi pilihan standar selama beberapa dekade.
  • Keunggulan: kurang invasif, risiko perioperatif lebih rendah, reperfusi lebih cepat, masa rawat berpotensi lebih singkat.
  • Komplikasi perdarahan dapat lebih sedikit karena dosis obat litik berkurang atau bahkan dihilangkan.
  • Dua metode utama: (1) aspirasi trombektomi perkutan — trombus diangkat dengan suction lewat kateter bore besar; (2) trombektomi mekanik — trombus difragmentasi atau diangkat dengan perangkat otomatis.
  • Aspirasi paling sering dipakai sebagai adjuvan trombolisis pada oklusi arteri akut, atau sebagai terapi penyelamat untuk mengangkat emboli distal setelah angioplasti iliaka atau femoropoplitea.
  • Perangkat mekanik berguna terutama untuk graft dialisis yang trombosis, dan makin dipakai untuk emboli paru masif serta DVT ileofemoral atau ileokaval.
  • Tujuan awal pengembangan perangkat adalah menghapus kebutuhan trombolisis farmakologis; kenyataannya kedua pendekatan kini dipandang komplementer, bukan bersaing.
  • Situs yang paling berisiko trombosis dan menjadi target PMT: graft akses dialisis, ekstremitas bawah iskemik dengan oklusi arteri native atau bypass, vena dalam ileofemoral, arteri serebral, dan graft bypass koroner.
  • Penggunaan terbesar perangkat ini adalah pada graft dialisis trombosis; penggunaan terbanyak kedua adalah iskemia tungkai akut.
  • Mekanik dapat menjadi terapi tunggal, tetapi farmakoterapi antitrombin atau antiplatelet adjuvan tetap penting.
Tabel 5-1 — Indikasi trombektomi mekanik perkutan [ Bab 5, hal. buku 72]
SirkulasiIndikasi
ArteriIskemia tungkai akut (emboli atau trombosis in situ, traumatik, iatrogenik)
ArteriOklusi graft vaskular akut
ArteriEmbolisasi distal saat intervensi endovaskular
ArteriStroke akut (oklusi embolik atau trombotik)
VenaTrombosis vena dalam (ileokaval akut, ileofemoral akut)
VenaSindrom vena kava superior akut
VenaEmboli paru masif
VenaSindrom Budd-Chiari
Fistula AV dialisisOklusi trombotik

Isi arteri berbeda dari koroner: sindrom koroner akut karena ruptur plak dengan trombus in situ, sedangkan iskemia tungkai akut paling sering karena emboli dari jantung atau aorta, atau oklusi trombosis graft pada pasien pasca-bypass.

Empat Mekanisme Perangkat

  • Aspirasi sederhana: lumen suction besar dari tip sampai hub, syringe dipasang di hub; semua kateter monorail 0,014".
  • Kateter aspirasi bekerja paling efektif bila tidak ada aliran; bila aliran ada, yang teraspirasi justru darah, bukan trombus.
  • Untuk hasil maksimal: kateter di bagian tengah trombus, suction sambil kateter ditarik perlahan, ulangi beberapa kali.
  • Kateter tersumbat: keluarkan dari tubuh lalu flush; perangkat ini baik pada pembuluh sampai 4–5 mm.
  • Bila beban trombus besar, perangkat mekanik lain umumnya masih diperlukan; aspirasi bisa dipakai lebih dahulu untuk meminimalkan embolisasi distal saat memasukkan perangkat yang lebih besar.
  • Wall contact: fragmentasi mekanik lokal menjadi potongan kecil yang dapat melewati kapiler, atau diangkat keluar dengan fitur tambahan.
  • Arrow-Trerotola PTD: perangkat rotasi kecepatan rendah dengan basket fragmentasi nitinol yang melebar sendiri.
  • Cara pakai Arrow-Trerotola: lewati oklusi dalam posisi tertutup, buka basket, aktifkan, tarik perlahan melalui bekuan — trombus difragmentasi tetapi tidak diangkat.
  • Kelebihan Arrow-Trerotola: ukuran kecil dan penanganan sederhana; dipakai terutama untuk trombolisis vena pada fistula dialisis.
  • Kekurangan Arrow-Trerotola: risiko emboli perifer partikel kecil dan cedera dinding pembuluh serupa balon Fogarty; trombus dapat diaspirasi lewat sheath luar selama aliran belum pulih; belum ada data untuk arteri perifer.
  • Brush Castaneda dan Cragg: dikembangkan sebagai adjuvan trombolitik untuk menurunkan dosis dan durasi agen.
  • Kekurangan brush: kerusakan endotel karena kontak dinding dan kemungkinan embolisasi distal akibat trombus terlepas sebelum trombolisis adekuat; belum ada hasil uji arteri perifer pada manusia.
  • Hidrodinamik: fragmentasi trombus lokal tanpa aspirasi keluar.
  • Amplatz ATD (Clot Buster): menciptakan vorteks yang menarik trombus ke ujung kateter, lalu dimaserasi menjadi fragmen mikroskopis.
  • ATD: tanpa lumen guidewire sehingga dikirim tanpa wire; turbin gas memutar impeler terenkapsulasi di ujung kateter; cairan hidraulik TurboWash membantu melepas trombus mural.
  • Kekurangan ATD: kabel berisiko putus pada angulasi akut, hemolisis, tidak dapat mengaspirasi trombus, dan guidewire harus dicabut sebelum aktivasi.
  • Rotarex: konsol elektronik dengan motor listrik dan kateter over-the-wire; ujung kateter berupa dua silinder bertumpuk yang berlubang lateral.
  • Rotarex: bahan trombus lunak dan padat ditarik vakum ke lubang lateral, difragmentasi, diangkut spiral yang berputar, lalu ditampung di kantong.
  • Kekurangan Rotarex: perforasi pembuluh dan embolisasi distal; sampai saat itu belum disetujui FDA untuk indikasi apa pun.
  • Rheolitik (flow-based): jet salin kecepatan tinggi menciptakan efek Venturi di ujung kateter, menghasilkan lisis sekaligus aspirasi; lumen exhaust besar mengangkut trombus ke area penampungan.
  • AngioJet: satu-satunya sistem yang saat itu disetujui untuk aplikasi arteri perifer; kateternya dual lumen dengan lumen injeksi kecil dan lumen exhaust besar.
  • AngioJet: pompa khusus memberi tekanan sangat tinggi; Xpeedior dan AVX dipakai di sirkulasi perifer, sedangkan XVG dan XMI untuk graft vena safena dan arteri koroner.
  • AngioJet: sebelum masuk tubuh, kateter di-flush di luar tubuh dengan mengaktifkan pompa sekitar 20 detik sambil ujung kateter di dalam air.
  • AngioJet: masih diperdebatkan apakah pompa diaktifkan saat maju atau saat menarik kateter; pabrik menganjurkan saat menarik, lalu diulang sampai beban trombus terangkat.
  • Hydrolyser: kateter triplumen dengan lumen injeksi, lumen exhaust, dan lumen wire.
  • Hydrolyser: salin terheparinisasi diinjeksi dengan power injector pada tekanan tetap yang tinggi.
  • Hydrolyser: lumen injeksi membuat loop 180° dan berakhir di lubang oval 4 mm proksimal tip; jet yang mengarah proksimal menurunkan tekanan lokal sehingga trombus teraspirasi dan terfragmentasi.
  • Kekurangan Hydrolyser: lubang eksentrik membuat vorteks kurang dari 360° sehingga suction asimetris dan berisiko trauma dinding; hanya bekerja pada bekuan segar, yaitu tidak lebih dari 14 hari.
  • Oasis: kateter triplumen dengan kanal stainless berujung J mengarahkan salin ke lumen exhaust dan menciptakan zona tekanan rendah.
  • Kekurangan Oasis: tidak bekerja isovolumetrik — rasio salin masuk terhadap cairan teraspirasi 0,6 — sehingga berisiko anemia hemolitik dan kelebihan volume.
  • X-Sizer: sekaligus fragmentasi dan aspirasi; pemotong helix stainless yang berputar, menarik, dan mengaspirasi trombus.
  • X-Sizer: unit genggam bermotor baterai; cutter menonjol sekitar 1 mm dari housing pelindung; vakum diaktifkan bersamaan.
  • X-Sizer: kekurangan berupa makroembolisasi dan trauma pembuluh; ukuran cutter menentukan guide yang dibutuhkan.
  • Ultrasound: Acrolysis dipakai untuk mempercepat trombolisis (uji sempat berhenti, menunggu reluncur); Resolution 360 memakai energi ultrasound untuk ablasi trombus, masih investigasional dengan hasil awal menjanjikan.
  • Trellis (kombinasi infus dan osilasi): kateter multumen dengan dua balon komplian dan lubang infus di antaranya.
  • Trellis: trombus diisolasi antara dua balon, agen litik disebarkan kawat berosilasi, lalu diaspirasi; konsentrasi tinggi tanpa diseminasi sistemik; FDA baru menyetujui untuk pemberian agen fibrinolitik.
Empat mekanisme ekstraksi trombus pada perangkat trombektomi mekanik Baris pertama aspirasi sederhana dengan suction. Baris kedua perangkat wall contact dengan basket atau brush. Baris ketiga perangkat hidrodinamik dengan impeler yang memaserasi. Baris keempat perangkat rheolitik dengan jet salin tekanan tinggi dan efek Venturi. 1. Aspirasi Suction port distal besar · Export, Pronto, QuickCat 2. Wall contact Basket nitinol atau brush mengikis dinding · Arrow-Trerotola 5-F 3. Hidrodinamik Impeler berputar memaserasi trombus · ATD, Rotarex 4. Rheolitik Jet salin tekanan tinggi, efek Venturi · AngioJet, Hydrolyser, Oasis
Animasi 5-A — Empat mekanisme ekstraksi trombus, dari suction sampai jet rheolitik. [ Bab 5, hal. buku 73–78]
Gambar 5-1: gambaran skematik kateter aspirasi sederhana dan contoh perangkatnya
Gambar 5-1 — Skematik kateter aspirasi sederhana: lumen aspirasi besar, lumen wire, dan contoh Pronto serta QuickCat. [ Bab 5, hal. buku 74]
Gambar 5-2: contoh perangkat trombektomi wall contact
Gambar 5-2 — Perangkat wall contact: Arrow-Trerotola PTD dan Cragg brush, dengan kabel, port infus, dan penanda radiopak. [ Bab 5, hal. buku 75]
Gambar 5-3: perbesaran ujung distal perangkat trombektomi Amplatz
Gambar 5-3 — Perbesaran ujung distal ATD: panah atas menunjuk impeler terenkapsulasi, panah bawah lubang tempat trombus masuk. [ Bab 5, hal. buku 76]

Spesifikasi & Jebakan Perangkat

Tabel 5-3 — Perangkat trombektomi mekanik: ukuran, wire, dan catatan [ Bab 5, hal. buku 81–83]
PerangkatSheath / ukuranGuidewirePanjang kerjaMekanisme & jebakan
Arrow-Trerotola PTD5 F0,025" over-the-wire65 cmBasket nitinol; risiko emboli partikel sampai 3 mm
Castaneda / Cragg BrushTidak dirinci pada teks sumberBrush dinding; dipakai sebagai adjuvan litik
Amplatz ATD (Clot Buster)7 FTanpa lumen wire75 cm dan 120 cmImpeler terenkapsulasi 100.000 rpm
Rotarex6 F atau 8 F0,018" over-the-wireTidak dirinci pada teks sumberMotor 40 W; spiral pengangkut fragmen
AngioJet (Xpeedior / AVX)Guide 8 F atau sheath 6 F0,035"50 cm dan 120 cmJet 70.000–105.000 kPa; efek Venturi
Hydrolyser6 F atau 7 F0,018"65 cm dan 120 cm5 mL/detik pada 750 psi; total 100–150 mL
Oasis6 F0,018"65 cm dan 100 cmKanal J-tipped; tidak isovolumetrik
X-Sizer7 F (1,5 mm) atau 8 F (2,0 mm)0,014"135 cmHelix cutter 2.100 rpm; vakum 700 mmHg
Trellis6 F0,035"Zona terapi 15 atau 30 cmDua balon isolasi; zona terapi 15 atau 30 cm
Acrolysis / Resolution 360Ultrasound, tidak dirinci pada teks sumberAcrolysis menunggu reluncur; Resolution 360 masih investigasional
  • Wajib memeriksa kompatibilitas wire, guide, dan sheath tiap perangkat sebelum dipakai — kesalahan ukuran adalah sumber komplikasi.
  • Ukuran kateter besar menaikkan risiko embolisasi distal saat melewati trombus; sebagian operator memasang perangkat proteksi emboli distal.
  • Diseksi pembuluh lebih sering pada kateter besar — pilih ukuran sesuai diameter pembuluh.
  • Hemolisis dan kelebihan cairan dapat terjadi pada semua kateter rheolitik; hati-hati pada insufisiensi ginjal atau gagal jantung dan jaga durasi pompa tetap minimal.
  • Perangkat yang tidak mengaspirasi (ATD) meninggalkan fragmen di sirkulasi; perangkat aspirasi berisiko menyumbat dan harus dicabut untuk di-flush.
  • Pada bekuan yang lebih tua dan melekat, semua perangkat mekanik kurang berhasil.
Gambar 5-4: sistem AngioJet dengan kateter Xpeedior, AVX, dan DVX
Gambar 5-4 — Sistem AngioJet: varian kateter Xpeedior, AVX, dan DVX beserta jalur suction. [ Bab 5, hal. buku 77]
Gambar 5-5: contoh trombektomi rheolitik, Hydrolyser dan Oasis
Gambar 5-5 — Trombektomi rheolitik: A Hydrolyser dan B Oasis dengan perbesaran ujung distalnya. [ Bab 5, hal. buku 78]
Gambar 5-6: sistem kateter X-Sizer
Gambar 5-6 — Sistem kateter X-Sizer: pemotong Helix dan unit kontrol genggam bermotor. [ Bab 5, hal. buku 79]
Gambar 5-7: kateter trombektomi Trellis
Gambar 5-7 — Kateter Trellis: unit penggerak osilasi dan zona terisolasi yang diterapi. [ Bab 5, hal. buku 80]

Kapan Mekanik, Kapan Farmakologis

  • Beban trombus besar dengan aliran berhenti: mekanik atau aspirasi lebih dahulu untuk membersihkan cepat dan menurunkan dosis litik.
  • Bekuan akut dan lunak, terutama di dalam graft dialisis: aplikasi ideal perangkat mekanik — trombus cepat dimaserasi dengan risiko minimal pada endotel native.
  • Trombus tua dan melekat: trombolisis farmakologis punya keunggulan; perangkat mekanik kurang berhasil.
  • Emboli distal ke pembuluh kecil yang tidak terjangkau perangkat: litik tetap diperlukan.
  • Perangkat mekanik tidak menangani lesi penyebab di balik oklusi akut; lesi itu perlu balon, stent, atau bedah agar tidak berulang.
  • Bila trombus tidak terangkat adekuat setelah trombektomi mekanik, kombinasikan trombolitik lokal — strategi ini menjanjikan.
  • Data DVT mendukung kombinasi: PMT tunggal hanya mengangkat 26,0% trombus, sedangkan PMT ditambah trombolitik mencapai 62,0%.
  • Kombinasi menurunkan waktu menuju lisis sekitar 40% dan dosis obat litik sekitar 60%.
  • Untuk graft dialisis, semua perangkat mencapai patensi primer 3 bulan 35–45% — hasil serupa menunjukkan metode pengangkatan bukan penentu utama.
  • Patensi jangka panjang lebih ditentukan oleh identifikasi dan perbaikan semua stenosis bermakna (vena maupun arteri) serta pengangkatan lengkap arterial plug.
  • Untuk akses dialisis: kenali graft yang akan gagal sebelum trombosis — recirculation meningkat dan aliran menurun; perbaiki lebih awal.
  • Pilihan akhir bergantung karakteristik oklusi (lokasi, beban trombus, usia trombus) dan kelayakan terapi mekanik.
Algoritma sederhana memilih trombektomi mekanik atau trombolisis farmakologis Oklusi trombus akut bercabang dua. Bekuan akut dan lunak pada graft dialisis atau iskemia tungkai akut mengarah ke terapi mekanik. Bekuan lebih dari 14 hari atau melekat dan emboli distal kecil mengarah ke litik kateter. Sisa yang besar setelah mekanik dikombinasikan dengan litik lokal. Oklusi trombus akut Bekuan akut dan lunak, graft dialisis, atau iskemia tungkai akut Bekuan lebih dari 14 hari atau melekat, serta emboli distal kecil Mekanik: aspirasi / PMT Farmakologis: litik kateter Sisa yang besar setelah mekanik → kombinasikan litik lokal
Diagram 5-B — Percabangan keputusan mekanik versus farmakologis, dengan kombinasi sebagai jalan tengah. [ Bab 5, hal. buku 72–73, 84–85]

Luaran & Limitasi

  • Tidak ada data acak yang membandingkan trombektomi mekanik dengan terapi bedah atau farmakologis; penilaian efikasi berbasis laporan kasus dan registri tanpa kontrol.
  • Data terbanyak ada pada AngioJet: laju ekstraksi trombus awal 52–95%.
  • Sebagian besar studi AngioJet memakai terapi adjuvan (litik, balloon angioplasty, stent); bila dipakai sendiri hasilnya hanya cukup baik.
  • Muller-Hulsbeck: 112 pasien oklusi arteri atau graft; sukses angiografik (pengangkatan lebih dari 75%) 88,4%; litik adjuvan diperlukan pada 29%.
  • Muller-Hulsbeck lanjutan: peningkatan ringan hemoglobin bebas plasma 24 jam pasca-prosedur tanpa sekuele; amputasi segera pada 2 pasien; bebas amputasi 2 tahun 75%.
  • Hydrolyser: dua uji klinis dengan keberhasilan awal 82% dan 83%; keberhasilan lebih tinggi pada graft 88% dibanding pembuluh native 73%; penghindaran obat litik pada 58%.
  • Hydrolyser: embolisasi angiografik pada 7 pasien; 6 tertangani dengan aspirasi perkutan atau trombolisis, 1 memerlukan amputasi.
  • Amplatz (Rilinger, pengalaman terbesar): ekstraksi trombus lengkap sebagai terapi tunggal pada 75%; tanpa embolisasi distal yang relevan; tanpa kematian di rumah sakit; litik adjuvan pada 8 pasien; 2 amputasi dini.
  • DVT dengan ATD: Gandini 8 pasien, ekstraksi lengkap 75%; Delomez 18 pasien, rekanalisasi 83%, rerata trombus terangkat 66%, hanya 1 tungkai dengan sindrom pasca-trombotik pada 29,6 bulan.
  • Limitasi PMT: tidak menghapus kebutuhan trombolisis, kurang berhasil pada trombus tua melekat, dan tidak menangani lesi penyebab.
  • Limitasi PMT untuk DVT: pengangkatan tidak lengkap, risiko embolisasi, potensi cedera vena atau katup, serta kurangnya pengalaman dan data prospektif.
  • Trombosis akses dialisis menyumbang 80–85% kehilangan akses vaskular permanen.
  • Kesimpulan: trombektomi mekanik layak untuk trombosis akut dan subakut arteri, vena, atau graft; memungkinkan pengangkatan langsung material bekuan, revaskularisasi cepat, dan menghindari prosedur panjang.
  • Tetap diperlukan pengetahuan atas beragam perangkat, dari kateter aspirasi murah sampai sistem mekanik mahal.

Klasifikasi perangkat (Tabel 5-2)

Tabel 5-2 — Klasifikasi perangkat trombektomi mekanik [ Bab 5, hal. buku 73]
KelasMekanismeContoh perangkat
Aspirasi sederhanaSuction melalui port distal besarExport, Pronto Extraction, TVAC, Diver CE, QuickCat, Rio, Fetch
Wall contactBasket atau brush menyentuh dindingArrow-Trerotola PTD, MTI-Castaneda Brush, Cragg Brush, Prolumen
HidrodinamikFragmen mekanik tanpa aspirasiAmplatz ATD/Helix, Rotarex, Thrombex PMT
Rheolitik (flow-based)Jet salin tekanan tinggi, efek VenturiAngioJet, Hydrolyzer, Oasis, X-Sizer
UltrasoundEnergi ultrasoundAcrolysis probe, Resolution 360 Therapeutic Wire
Infus / osilasi terisolasiInfus terisolasi plus kawat berosilasiTrellis Reserve

Luaran arteri perifer (Tabel 5-4, pilihan)

Tabel 5-4 — Hasil trombektomi mekanik pada oklusi arteri perifer [ Bab 5, hal. buku 83]
PerangkatnKeberhasilanPatensi primer
AngioJet — Muller-Hulsbeck11288,4% sukses angiografik6 bulan 68%; 2 tahun 60%; 3 tahun 58%
AngioJet — Kasirajan83Lengkap 51 (61%); parsial 19 (23%)3 bulan 90%; 6 bulan 78%
AngioJet — Silva2221 (95%)Tidak berlaku
AngioJet — Wagner5026 (52%)1 tahun 69%
Hydrolyser — Reekers2823 (82%); graft 88% vs native 73%1 bulan 50%
Hydrolyser — Henry4134 (83%)1 bulan 73%
Amplatz — Rilinger4030 (75%)Tidak dilaporkan
Amplatz — Tadavarthy1410 (71%)6 bulan 43%
Oasis — Hopfner516 (11,8%)1 bulan 64%; 6 bulan 54%
Amplatz — Gorich1814 (78%)Tidak berlaku

*Definisi keberhasilan berbeda antarstudi. Dimodifikasi dari Haskal ZJ, Mechanical thrombectomy devices for the treatment of peripheral arterial occlusions. n = jumlah pasien; patensi primer dalam persen.

Graft hemodialisis trombosis (Tabel 5-5)

Tabel 5-5 — Perangkat trombektomi mekanik pada graft hemodialisis yang trombosis [ Bab 5, hal. buku 85]
Penulis pertama (ref.)TahunNPerangkat
Dolmatch (28)199943Cragg brush
Barth (29)200062Oasis
Sahni (36)200517Oasis
Uflacker (30)199619ATD
Sofocleous (31)199979ATD
Shatsky (35)200542ATD
Trerotola (33)199864PTD
Vorwerk (32)199651Hydrolyser
Vesely (34)199982AngioJet

ATD, Amplatz thrombectomy device; PTD, Trerotola percutaneous thrombolytic device.

Kombinasi PMT dan trombolitik pada DVT

  • Kasirajan 2001: 17 pasien DVT ekstremitas atas dan bawah, mula-mula AngioJet dan trombolisis terarah kateter; setelah PMT tunggal hanya 24% dengan pengangkatan lebih dari 90% dan 35% dengan pengangkatan 50–90%.
  • Kasirajan: litik adjuvan dipakai pada 9 dari 13 pasien dengan ekstraksi kurang dari 90%; keberhasilan klinis keseluruhan PMT plus litik 82%; kelangsungan bebas rekurensi terbesar pada kelompok ekstraksi lebih dari 90%; tanpa komplikasi terkait prosedur.
  • Vedantham 2002 (perbandingan retrospektif): PMT adjuvan menurunkan waktu menuju lisis sekitar 40% dan dosis obat litik sekitar 60%.
  • Vedantham: pengangkatan trombus minimal dengan PMT tunggal 26,0% versus 62,0% dengan PMT plus trombolitik.
  • Uppot: 24 pasien, obat litik dicampur dalam kantong infus salin AngioJet; pengangkatan lengkap atau substansial 83,5%.
  • Kasirajan: 20 pasien memakai perangkat Trellis dikombinasikan dengan trombolitik, dilaporkan berhasil.
  • Kesimpulan seri terbatas ini: PMT tunggal untuk DVT, meski memperpendek waktu prosedur, tidak cukup untuk pengangkatan trombus adekuat; litik adjuvan sebelum atau sesudah PMT kemungkinan diperlukan.

Kuis: Trombolisis & Trombektomi (Bab 4–5)

1. Waktu paruh plasma terpendek di antara agen trombolitik pada Tabel 4-2 dimiliki oleh:

Alteplase memiliki t½ plasma 3,5 menit, terpendek di antara agen pada Tabel 4-2. Streptokinase bifasik 16/90 menit, urokinase 14 menit, dan reteplase 15 menit.  Bab 4, hal. buku 59 dan 61

2. Ambang waktu yang dianjurkan sebagai batas penghentian infus trombolitik adalah:

Batas tradisional penghentian trombolitik adalah 48 jam; risiko perdarahan meningkat tajam melewati titik itu.  Bab 4, hal. buku 65

3. Pernyataan yang paling tepat tentang pemilihan terapi pada oklusi trombus akut adalah:

Kedua pendekatan bersifat komplementer. Mekanik cepat untuk bekuan akut, sedangkan trombus tua dan melekat lebih baik dengan litik. Perangkat mekanik tidak menghapus kebutuhan litik dan tidak menangani lesi penyebab; sisa trombus yang besar sebaiknya dikombinasikan dengan litik lokal.  Bab 5, hal. buku 72 dan 84–85

Ed. Snoopy Medical Journal — sumber: Limpijankit T., Manual of Carotid and Peripheral Vascular Interventions, 2008. Ringkasan edukatif; verifikasi pada sumber primer.