Bab 9 — Stent-Graft Aorta Torakalis (TEVAR)
Referensi: Bab 9, hal. buku 178–201.
Pesan utama Penambatan stent-graft toraks ditentukan zona: Z3–Z4 paling aman, Z0–Z2 menuntut revaskularisasi cabang lebih dulu.
Zona penambatan Z0–Z4
Zona dinomori dari distal ke proksimal; setiap batas adalah asal cabang aorta. Ujung proksimal dan distal stent-graft wajib mendarat di dinding aorta normal.
- Z0 — proksimal melintasi asal arteri innominata.
- Z1 — dari asal karotis komunis kiri sampai asal arteri innominata.
- Z2 — melintasi asal subklavia kiri sampai asal karotis komunis kiri.
- Z3 — dalam 2 cm dari asal subklavia kiri.
- Z4 — mulai 2 cm distal subklavia kiri; segmen lurus dekat vertebra, paling disukai.
- Tiap level torakal T4–T12 mengandung sepasang arteri interkostal; L1–L2 sejajar asal arteri mesenterika superior dan renal.
Bila cabang ikut tertutup
- Tutup Z2 (subklavia kiri): bypass karotis–subklavia dengan ligasi proksimal, atau transposisi subklavia–karotis.
- Tutup Z1: bypass karotis–karotis ditambah bypass karotis kiri–subklavia, ligasi karotis komunis dan subklavia kiri; alternatif bypass femoroaksilaris.
- Kontraindikasi anatomis: leher < 15 mm di distal subklavia atau di atas celiac/mesenterika, trombus aorta berlebih, tortuositas aorta toraks ekstrem, akses iliaka buruk.
- Butuh ≥ 20 mm dinding aorta normal sebagai zona friksi; oversize 10–15% (degeneratif 10–20%).
- Presisi penempatan dibantu hipotensi terkendali atau henti jantung singkat dengan adenosin.
- Risiko iskemia korda tinggi (riwayat perbaikan AAA, cakupan segmen panjang, hipotensi perioperatif): drainase cairan serebrospinal, dipertahankan 48 jam atau lebih.
- Endoleak pasca-pemasangan dideteksi dan ditangani memakai TEE Doppler warna bersama fluoroskopi dan angiografi.
Morfologi layak & klasifikasi Crawford
Morfologi aneurisma: fusiform (seluruh sirkumferens, simetris) atau sakular (menonjol pada sebagian dinding).
- Crawford I — dari interkostal keenam (dekat subklavia kiri) sampai di atas arteri renalis.
- Crawford II — dari interkostal keenam sampai bifurkasi aorta.
- Crawford III — paruh distal aorta toraks desenden, meluas ke sebagian aorta abdominalis.
- Crawford IV — umumnya melibatkan seluruh aorta abdominalis.
| Syarat | Nilai / kriteria |
|---|---|
| Leher proksimal dari subklavia kiri | ≥ 2 cm (dapat diubah dengan transposisi subklavia) |
| Diameter leher proksimal dan distal | 18–42 mm |
| Diameter aneurisma maksimal | ≥ 6 cm |
| Jenis aneurisma | torakoabdominal Crawford tipe I |
| Harapan hidup | > 6 bulan |
| Kondisi pasien | usia lanjut, risiko tinggi atau tidak layak bedah, PPOK, penyakit koroner/karotis berat, insufisiensi renal |
| Akses vaskular | iliaka memadai, tanpa tortuositas, stenosis, atau trombus |
| Trombus aorta | tidak berlebihan |
| Kompresi bronkus atau esofagus | tidak ada |
Kapan TEVAR, kapan bedah terbuka
- Keputusan perbaikan berbasis gejala, ukuran, laju pertumbuhan, komorbiditas, dan harapan hidup; konsensus: perbaikan bila diameter > 6 cm.
- Laju tumbuh rata-rata 0,1 cm/tahun, lebih cepat pada aorta desenden, aneurisma yang sudah didiseksi, dan sindrom Marfan.
- Pada diameter 6 cm, risiko tahunan: ruptur 3,6%, diseksi 3,7%, kematian 10,8%, gabungan ketiganya 14,1%.
- Sebagian besar TAA asimtomatik dan ditemukan insidental; gejala muncul karena penekanan struktur sekitar (trakea, bronkus, saraf laring rekuren, esofagus).
- CT kontras dan MR angiografi adalah modalitas pilihan untuk deteksi dan pengukuran; TEE hanya unggul untuk akar aorta dan evaluasi Marfan.
- TEVAR dipilih pada pasien risiko tinggi; hanya diterapkan untuk aneurisma di bawah arkus aorta.
- CTA spiral praoperasi menilai diameter transversal dan longitudinal serta hubungan aneurisma dengan subklavia dan celiac.
| Luaran | TEVAR | Bedah terbuka |
|---|---|---|
| Mortalitas 30 hari (Bavaria dkk, 2007) | 2,1% | 11,7% (p<0,001) |
| Mortalitas operatif (Stone dkk, 2006) | 7,6% | 15,1% |
| Iskemia korda spinalis | 8,6% | 6,7% |
| Reintervensi | 9,7% | 10,5% |
| Kelebihan | tanpa torakotomi dan tanpa cross-clamping aorta | data jangka panjang lebih matang; untuk anatomi yang tidak layak |
Perangkat & langkah TEVAR
- Akses tersering: arteri femoralis komunis. Delivery system berdiameter luar 7–9 mm: iliaka minimal 7 mm untuk sistem 22 Fr, 8 mm untuk 25 Fr, 9 mm untuk 27 Fr; lebih kecil → akses retroperitoneal ke aorta.
- Kateter pigtail 5–6 Fr bercalibrasi lewat femoralis kiri (atau brakialis) ke aorta asendens untuk angiografi diagnostik.
- Sheath introducer dipasang lewat arteriotomi transversal; Glidewire 0,035 inci dan kateter JR4/pigtail diarahkan ke aorta asendens, lalu ditukar ke Amplatz super stiff 0,035 inci.
- Heparin 50–100 U/kg atau 5.000 U diberikan setelah angiografi.
- Deployment memakai teknik overlay angiografi: pusher ditahan, sheath ditarik perlahan.
- Gore TAG menerima persetujuan FDA 23 Maret 2005 untuk aneurisma aorta toraks desenden; kandidat lain Valiant, Talent, dan Zenith TX2.
- Prosedur dilakukan di ruang angiografi dengan DSA; tim bedah dan cardiopulmonary bypass siaga.
Komplikasi & endoleak
- Endoleak tipe I (penambatan) komplikasi tersering TEVAR; insiden literatur 0–44%.
- Tipe I dan III ditangani endovaskular tambahan (inflasi balon, stent-graft kedua) atau konversi bedah; tipe II dan IV umumnya diobservasi.
- Konversi ke bedah terbuka bila tindakan endovaskular gagal dan diameter TAA bertambah.
- Postimplantation syndrome (demam, leukositosis, CRP naik) 20–60%; reaksi inflamasi nonspesifik, membaik konservatif dalam 2–10 hari.
- Komplikasi terkait perangkat dilaporkan 38% (kegagalan penambatan proksimal 8%, distal 6%); komplikasi fatal 4% (ruptur aneurisma, erosi ke esofagus, cedera arteri, perdarahan).
- Komplikasi lambat: migrasi atau prolaps graft, kinking, endoleak, infeksi, diseksi, ruptur.
- Surveilans: CT serial saat pulang dan pada 1, 3, 6, 12 bulan, lalu tahunan; posisi dan integritas perangkat juga dipantau dengan foto polos.
| Segera | Lambat |
|---|---|
| Kegagalan ginjal | Fraktur stent-graft |
| Infark usus | Migrasi atau prolaps ke aneurisma |
| Emboli ekstremitas bawah | Infeksi stent-graft |
| Ruptur false lumen | Endoleak |
| Paraplegia atau paraparesis | Ekspansi dan ruptur aneurisma yang ditangani |
| Embolisasi distal | Postimplantation syndrome |
| Iskemia usus | — |
Diseksi aorta: kapan distent
- Klasifikasi: Stanford A setara DeBakey I–II (proksimal, bedah segera); Stanford B setara DeBakey III (distal).
- Tipe B umumnya konservatif; namun 20–50% mengalami ruptur atau dilatasi false lumen dalam 1–5 tahun, sehingga perlu perbaikan bedah atau endovaskular.
- Mortalitas bedah terbuka tipe B tinggi (25–51%), sedangkan stent-graft endovaskular 0–25%; intervensi masih terbatas pada kasus komplikata.
- Indikasi perbaikan tipe B: diseksi tidak stabil (ruptur mengancam, hemotoraks), sindrom malperfusi (renal, hepatik, usus, tungkai), aneurisma ≥ 6 cm, nyeri menetap meski terapi medis optimal.
- Syarat anatomis: diameter leher proksimal pada aorta normal, leher ≥ 2 cm dari entry tear, cakupan ≥ 10 cm distal dari entry utama, akses iliaka/femoral memadai.
- Perbedaan penting dari TEVAR aneurisma: oversize minimal 0–10% (0–3 mm) karena dinding aorta rapuh; jangan overinflasi balon.
- Konfirmasi true lumen dengan IVUS dan teknik “embracing pigtails”; hipotensi 50–60 mmHg atau bradikardia dengan adenosin membantu ekspansi graft dan penyegelan entry.
- Fenestrasi balon: tusuk flap dari true lumen, balon 12–15 mm × 20–40 mm, 2–3 fenestrasi bila perlu; tambahan rt-PA 4–10 mg untuk trombus; stent self-expanding 14–16 mm bila flap tidak stabil.
- Epidemiologi TAA: 2–4× lebih sering pada pria; 60% melibatkan akar atau aorta asendens, 40% desenden, 10% arkus, 10% torakoabdominal; 25% pasien TAA juga punya AAA.
- Aorta asendens dewasa rata-rata 3–3,5 cm; aorta desenden 2,5 cm; toraks dianggap dilatasi bila > 3,5 cm dan aneurismal bila > 4,5 cm.
- Penyebab: degenerasi kistik media (asendens) dan aterosklerosis (desenden, 50–75%); sisanya Marfan, Ehlers-Danlos, Takayasu, arteritis sel raksasa, sifilis, mikotik, koarktasi, katup aorta bikuspid.
- Tabel 9-3 membandingkan karakteristik perangkat (Gore TAG, Medtronic Talent/Valiant, Cook Zenith TX2): bahan graft ePTFE atau poliester, stent nitinol atau baja, profil sheath 20–28 Fr, panjang stent 10–20 cm.
- Uji VALOR (Talent): sukses prosedural awal 98%, mortalitas 30 hari 8,4%, stroke 8%, paraplegia/paraparesis 5,5% (dua pertiga pulih dalam 6 bulan), endoleak 12% pada 1 bulan dan 10% pada 6 bulan, intervensi sekunder 2,8%.
- Gore TAG: pada 142 pasien, bebas kematian atau kematian terkait aneurisma 75% dan 97% pada 2 tahun, mortalitas operatif 1,5%.
- EUROSTAR dan United Kingdom Thoracic Endograft registry (diseksi): 131 pasien, sukses teknis 89%, mortalitas 30 hari 8,4%, paraplegia 0,8%, survival 1 tahun 90%.
- Meta-analisis 39 seri (609 pasien diseksi): sukses prosedural 98,2%, komplikasi mayor 11,1%, stroke 1,9% vs paraplegia 0,8%; komplikasi lebih tinggi pada diseksi akut vs kronik (21,7 vs 9,1); mortalitas 30 hari 5,3% (akut 9,8% vs kronik 3,2%).
- Survival pasca-stent-graft tipe B: 6 bulan 90,6%, 1 tahun 89,9%, 2 tahun 88,8%.
- Perbaikan profilaksis diseksi tipe B tanpa komplikasi masih kontroversial. Sindrom malperfusi terjadi pada 25–40% pasien diseksi; mortalitas bedah terbuka sampai 20%.
Bab 11 — Aneurisma Aorta Abdominalis: EVAR atau Bedah Terbuka
Referensi: Bab 11, hal. buku 237–252.
Pesan utama EVAR hanya untuk anatomi yang layak — leher ≥ 15 mm, angulasi < 60°, akses iliaka memadai — dan tetap butuh surveilans seumur hidup.
Kapan AAA diperbaiki
- Indikasi menurut ACC/AHA 2005: AAA infrarenal atau juxtarenal ≥ 5,5 cm → perbaikan, bedah terbuka atau EVAR (Class I, Level of Evidence B).
- Diameter 5,0–5,4 cm → perbaikan (Class IIa, LoE B).
- Bedah terbuka untuk kandidat bedah baik atau rata-rata (Class I, LoE B).
- EVAR untuk pasien berisiko tinggi akibat penyakit kardiopulmonal atau komorbid lain (Class IIa, LoE B).
- EVAR pada risiko bedah rendah atau rata-rata (Class IIb, LoE B).
- Asimtomatik < 4 cm: USG tahunan. Diameter 4–5,4 cm: USG tiap 6–12 bulan ditambah CT atau MR kontras.
- Pertumbuhan > 0,5 cm dalam 6 bulan (growth spurt) atau muncul gejala: perbaikan elektif segera; high risk → EVAR bila anatomi sesuai.
- Ruptur: perbaikan darurat; EVAR bila anatomi memungkinkan.
Morfologi layak EVAR
Setelah pasien dinilai layak secara fisiologis, kelayakan anatomis menjadi penentu. Inti penilaian: leher proksimal — segmen aorta normal antara asal arteri renal dan sak aneurisma.
| Kriteria anatomis | Ambang |
|---|---|
| Panjang leher proksimal (segmen infrarenal normal) | ≥ 15 mm |
| Angulasi leher | < 60° |
| Trombus intraluminal | menempati < 90° keliling aorta dan < 2 mm tebal |
| Diameter leher aorta | ≤ 28 mm, tanpa bentuk reversed cone |
| Diameter aorta dan iliaka | aorta 14–32 mm; iliaka 8–22 mm |
| Panjang iliaka distal | ≥ 10–15 mm |
| Diameter arteri iliaka eksterna | ≥ 7 mm (sheath terkecil 20 Fr) |
| Trombus dan ulserasi arteri iliaka | tidak ada |
| Arteri mesenterika superior dan celiac | paten, sehingga IMA boleh di-over-stent |
| Arteri renalis aksesori | tidak ada di segmen aorta yang akan dieksklusi |
- Variabel yang bernilai: diameter, panjang, bentuk leher, kalsifikasi, trombus, dan angulasi sumbu longitudinal leher.
- Graft di-oversize 15–20% dari diameter sebenarnya di lokasi penambatan proksimal dan distal.
- Leher pendek (< 15 mm): pilih stent-graft dengan suprarenal bare stent agar penambatan lebih aman.
- Morfologi pembatas: ekstensi suprarenal, leher tidak layak atau bentuknya salah, trombus leher luas, deviasi aksial besar aorta infrarenal, iliaka sangat tortuos/sempit/stenotik.
- Sak aneurisma dinilai jumlah dan patensi cabang yang keluar darinya — sumber potensial aliran retrograde (endoleak tipe II).
Langkah EVAR
- Akses: arteriotomi tunggal atau ganda pada femoralis komunis. Bila femoralis atau iliaka eksterna tidak cukup lebar → akses ekstraperitoneal ke iliaka komunis.
- Anestesi umum atau lokal, pasien supin pada meja radiolusen; penggaris radiopak di lapangan angiografi untuk kalibrasi.
- Antikoagulasi: heparin 50–100 U/kg atau 5.000 U; antiplatelet ditahan bila kemungkinan konversi ke bedah terbuka.
- Tim bedah vaskular harus tersedia di fasilitas yang sama untuk konversi darurat ke bedah terbuka.
- Penutupan arteri iliaka interna: bila perlu bilateral, lakukan koil embolisasi atau ligasi interval; pertimbangkan bypass ke salah satu iliaka interna untuk mencegah iskemia pelvis, klaudikasio glutea, dan disfungsi ereksi.
- Stent-graft aorto-uni-iliac: dilengkapi femoro-femoral crossover dan okcluder atau ligasi iliaka komunis kontralateral untuk menghentikan aliran balik ke sak.
- Pasca-tindakan: perawatan ICU, mobilisasi setelah 48 jam.
Endoleak: klasifikasi & tindakan
| Tipe | Definisi | Tatalaksana |
|---|---|---|
| I — perigraft | kebocoran di lokasi penambatan stent-graft (Ia proksimal, Ib distal, Ic di sekitar occluder pada graft uni-iliac) | cuff, embolisasi, stent-graft sekunder, bedah terbuka |
| II — retrograde | aliran balik lewat cabang bebas dalam sak (IIa satu cabang, IIb dua cabang atau lebih dengan inflow dan outflow) | observasi, embolisasi, ligasi laparoskopik |
| III — mid-graft | kebocoran pada sambungan modul atau robekan/perforasi kain graft | stent-graft sekunder |
| IV — permeabilitas | rembesan melalui kain graft yang tidak rusak, sampai 30 hari pasca-tindakan | konservatif |
| V — endotension | tekanan intrasak meningkat tanpa endoleak yang terlihat pada CT kontras tertunda | tidak diketahui |
- Endoleak tipe I dan III berasal dari perangkat (ukuran graft, pengukuran pembuluh, docking tidak tepat, kain robek) → perlu koreksi.
- Endoleak tipe II bukan berasal dari perangkat (perfusi dari arteri lumbal atau IMA) → observasi dulu, embolisasi bila sak membesar.
- Surveilans: CT dan DUS saat pulang, pada 1, 3, 6, 12 bulan, lalu tiap 12 bulan; foto polos abdomen AP dan lateral saat pulang lalu tiap tahun.
- Yang dipantau: diameter sak dan leher proksimal, endoleak, patensi stent-graft, patensi arteri renal (bila fiksasi suprarenal), patensi iliaka, posisi dan konfigurasi rangka perangkat.
Hasil & cara memilih
- Bedah terbuka dipertimbangkan bila mortalitas perioperatif diperkirakan < 5% dan harapan hidup > 10 tahun.
- EVAR dipertimbangkan bila mortalitas bedah > 5%, harapan hidup pendek, atau ada faktor penghalang seperti hostile abdomen.
- EVAR bersifat paliatif: pasien harus memahami trade-off antara keamanan jangka panjang bedah terbuka dan pemulihan cepat EVAR.
- EUROSTAR: mortalitas 30 hari pasca-EVAR sekitar 3%; 25–40% pasien mengalami komplikasi yang menuntut intervensi tambahan atau konversi terbuka.
- DREAM (345 pasien): mortalitas operatif 4,6% bedah terbuka vs 1,2% endovaskular.
- EVAR-1 (1.082 pasien): 4,7% vs 1,7% (p=0,009). Keduanya menunjukkan operasi lebih singkat, transfusi lebih sedikit, ICU dan rawat inap lebih pendek pada EVAR.
- EVAR-1 pada 4 tahun: mortalitas keseluruhan tidak berbeda; mortalitas terkait aneurisma 4% (EVAR) vs 7% (bedah).
- Reintervensi lebih sering pada EVAR (Gambar 11-12), dan menjadi kekhawatiran utama bersama daya tahan perangkat.
- Perbandingan antarperangkat (Ouriel dkk): oklusi limb tertinggi pada Ancure, endoleak tipe II lebih tinggi dan penyusutan sak lebih jarang pada Excluder, pembesaran sak lebih sering pada Zenith; bebas ruptur 98,7% pada 24 bulan tanpa perbedaan bermakna pada prosedur sekunder, konversi, dan migrasi.
- Alat dan bahan prosedur: jarum pungsi Seldinger 18–19 G, sheath hemostatik 5–6 Fr, Angled Glidewire 0,035 inci/180 cm, pigtail 5-Fr/65–100 cm, JR4 atau Multipurpose, Amplatz Super Stiff 0,035 inci/260 cm, introducer 8 Fr dan 12 Fr, balon angioplasti 8–20 mm, balon oklusi aorta, kateter balon stent-graft, embolic coil, snare.
- Stent-graft tambahan dan cuff ekstender aorta/iliaka berbagai ukuran wajib tersedia untuk menyesuaikan implant dengan anatomi pasien.
- Perangkat awal yang dibahas: Montefiore Endovascular Grafting System, Vanguard, Ancure, Fortron, Apolo, serta Lifepath (Edwards), Fortron (Cordis), Zenith (Cook), Excluder (Gore), Powerlink (Endologix), AneuRx dan Talent (Medtronic).
- Karakteristik perangkat bervariasi (Tabel 11-3): bahan graft poliester atau ePTFE; stent nitinol, baja, atau Elgiloy; fiksasi barb atau suprarenal bare stent; profil main body 14–24 Fr; stent lebih panjang dan kaku menyulitkan penyesuaian pada zona penambatan yang berangulasi dan berisiko endoleak atau kinking.
- Perangkat dengan suprarenal bare stent dipilih pada AAA dengan leher proksimal pendek (< 15 mm).
- Kasus ilustratif: pria 73 tahun, perokok kronik, PPOK dan hipertensi, nyeri perut dan massa pulsatil; CTA menunjukkan aneurisma infrarenal 59 mm dengan trombus intramural dan lesi ulserasi, ditambah aneurisma arteri iliaka komunis kanan 19 mm; ditangani EVAR AneuRx dan koil embolisasi iliaka interna kanan, demam ringan 1 minggu, pulang hari ke-7.
- Kesimpulan penulis: EVAR adalah pilihan penting untuk pasien terpilih, terutama risiko bedah tinggi; keputusan terbaik adalah konsensus antara dokter intervensi dan ahli bedah berdasarkan penilaian risiko–manfaat kritis.
- Tantangan yang masih terbuka: perfusi aneurisma yang menetap (endoleak) dan kelelahan material perangkat.
Bab 12 — Intervensi Aorta, Iliaka, dan Femoralis Komunis
Referensi: Bab 12, hal. buku 256–281.
Pesan utama TASC A–B cukup endovaskular; TASC C–D umumnya bedah kecuali pasien risiko tinggi, dan ruptur iliaka 0,8% ditangani tamponade balon.
Pola penyakit & anatomi
- Penyakit oklusif aortoilaka hampir selalu aterosklerotik; lokasinya tersering kedua setelah arteri femoralis superfisialis dan poplitea.
- Faktor risiko utama merokok dan diabetes, diikuti hipertensi lama dan hiperkolesterolemia. Merokok dan hiperkolesterolemia lebih berperan pada lesi proksimal; diabetes dan hipertensi pada pembuluh di bawah lutut.
- Trias Leriche: klaudikasio paha atau bokong, pulsasi femoralis menghilang atau melemah, dan disfungsi ereksi.
- Aterosklerosis tipe I: hanya aorta abdominalis distal dan arteri iliaka komunis (5–10% pasien PAD, lebih sering perempuan).
- Tipe II: aorta infrarenal, iliaka komunis, dan iliaka eksterna, dapat meluas ke femoralis komunis (35%).
- Tipe III: aorta infrarenal, iliaka, femoralis, poplitea, dan sirkulasi infrapoplitea — bentuk tersering (55–60%).
- Kolateral utama dari cabang iliaka interna dan femoralis profunda. Oklusi iliaka komunis: lumbal ipsilateral dan sakral lateral kontralateral → iliaka interna → retrograde ke iliaka eksterna.
- Oklusi iliaka interna: IMA ke cabang glutea inferior lewat pleksus rektal, lumbal ke arteri iliolumbal, femoralis profunda ke glutea via cabang sirkumfleks femoralis.
- Oklusi iliaka eksterna: divisi posterior iliaka interna ke femoralis komunis lewat arteri sirkumfleks iliaka profunda, divisi anterior ke cabang sirkumfleks femoralis femoralis profunda, serta kolateral transpelvis.
| Pembuluh | Diameter (mm) |
|---|---|
| Aorta infrarenal | 14–20 |
| Arteri iliaka komunis | 8–12 |
| Arteri iliaka eksterna | 7–10 |
| Arteri femoralis komunis | 6–7 |
Klasifikasi TASC & pilihan terapi
| Tipe | Lesi | Terapi yang diutamakan |
|---|---|---|
| A | stenosis tunggal CIA atau EIA < 3 cm, unilateral atau bilateral | endovaskular |
| B | stenosis tunggal 3–10 cm tidak meluas ke CFA; oklusi CIA unilateral; stenosis bilateral CIA dan/atau EIA 5–10 cm; oklusi EIA unilateral tidak meluas ke CFA | endovaskular |
| C | stenosis EIA unilateral yang meluas ke CFA; oklusi CIA bilateral | bedah pada pasien risiko rendah; endovaskular masih dapat dicoba |
| D | oklusi unilateral yang melibatkan CIA dan EIA; oklusi EIA bilateral; penyakit difus aorta dan kedua arteri iliaka | bedah |
- PTA dan stenting masih boleh dicoba pada tipe C bahkan D di pasien risiko tinggi, karena kegagalan endovaskular jarang menghalangi bypass bedah berikutnya.
- Stent self-expanding khususnya berguna pada iliaka yang sangat tortuos dan lesi panjang karena menyesuaikan berbagai diameter pembuluh.
- Dengan pengalaman operator yang baik, panjang dan morfologi lesi iliaka kini kurang berpengaruh pada keberhasilan teknis dan hasil jangka panjang.
- Oleh karena komplikasi mayor rendah dan hasil jangka panjang baik, revaskularisasi perkutan telah menggantikan bedah untuk sebagian besar penyakit oklusif aortoilaka; aorto-femoral bypass kini dicadangkan untuk penyakit oklusif yang tidak dapat ditangani PTA atau stent.
Diagnosis & penilaian hemodinamik
- Work-up: ankle-brachial index saat istirahat dan setelah uji treadmill, segmental pressure recording, dan Doppler ultrasonografi.
- CTA spiral dan MRA sangat membantu bila dicurigai oklusi aortoilaka: memberi panjang lesi, lokasi oklusi, tingkat kolateral yang sudah rekanalisasi, derajat kalsifikasi, dan adanya trombus.
- Stenosis dinilai bermakna secara hemodinamik bila diameter pembuluh pada angiografi berkurang 50–75%.
- Gradien bermakna: puncak sistolik > 10 mmHg atau rerata > 5 mmHg saat istirahat.
- Pada kasus meragukan: gradien rerata > 15 mmHg yang menetap (> 60 detik) setelah nitroglycerin intraarteri 200–300 Β΅g.
- Outflow distal yang buruk dapat menyamarkan gradien karena aliran total rendah — pada kasus ini IVUS diperlukan untuk menilai derajat penyakit.
- Oklusi akut aorta distal jarang dan hampir selalu akibat embolisasi; gejala: nyeri, pucat, paralisis, dan dingin pada kedua tungkai. CT atau aortografi brakialis darurat diperlukan sebelum embolectomi.
Akses & teknik
| Lokasi lesi | Akses yang dianjurkan |
|---|---|
| Bifurkasi aorta | retrograde femoralis komunis bilateral |
| Iliaka komunis ostial | retrograde femoralis komunis ipsilateral atau arteri brakialis |
| Stenosis iliaka komunis dan eksterna | retrograde ipsilateral atau kontralateral femoralis komunis |
| Oklusi iliaka komunis dan eksterna | ipsilateral ± kontralateral femoralis komunis, atau brakialis |
| Femoralis komunis | retrograde kontralateral femoralis komunis |
| Iliaka komunis/eksterna ditambah SFA atau poplitea | retrograde kontralateral femoralis komunis |
- Ipsilateral retrograde dipilih untuk lesi unilateral yang berakhir di atas femoralis komunis: paling langsung ke lesi, paling mudah dan paling sedikit trauma.
- Kontralateral cross-over dianjurkan bila (1) lesi non-ostial atau di iliaka eksterna distal/dekat femoralis komunis, (2) femoralis komunis sakit berat sehingga dapat mengganggu aliran saat sheath dicabut, (3) perlu revaskularisasi yang lebih distal.
- Cross-over: wire diganti super stiff (Amplatz stiff, Hi-Torque Supracore) lewat kateter 5-Fr untuk membuka sudut bifurkasi, lalu sheath cross-over 6-Fr 40 cm (Balkin) atau 55 cm (Rabbe, SuperArrow-Flex) dimasukkan sampai proksimal lesi.
- Bifurkasi aorta berangulasi akut atau stenosis di asal iliaka komunis: teknik lebih sulit, gunakan kateter SOS Omni atau glide catheter 4-Fr.
- Teknik over-the-arch memakai kateter JR4 atau IMA dan Glidewire 0,035 inci untuk lesi iliaka bilateral, terutama bila akses femoralis tidak memungkinkan.
- Akses brakialis kiri lebih disukai: lebih langsung ke aorta desenden dan menurunkan risiko embolisasi serebral saat melintasi arkus. Pungsi di bagian distal brakialis, di atas fossa antekubital, agar kompresi terhadap humerus efektif; sheath 6-Fr 90 cm (Shuttle) dengan wire 300 cm.
- Road-mapping dan landmark fluoroskopi wajib saat penempatan dan deployment stent.
- Stent dilepas perlahan dengan kontrol fluoroskopi kontinu; lesi tandem 10–20 mm terpisah boleh ditutup satu stent panjang.
- Setelah deployment, dilatasi stent dengan rasio balon:arteri 1:1.
- Tips “balloon as the introducer”: saat balon predilatasi dikempiskan, sheath dimajukan sampai menutupi seluruh panjang lesi — mencegah stent terembolisasi pada pembuluh yang sangat tortuos atau terkalsifikasi.
- Salvage arteri iliaka interna: pada pria dengan satu arteri iliaka interna, revaskularisasi sebelum “jailing” stent untuk mencegah impotensi; angioplasti ostium iliaka interna dulu bila ada penyakit sedang di bifurkasi.
Balon atau stent
- Balon dimajukan menutupi lesi dan dikembungkan untuk menilai waist; waist harus hilang sebelum stent dipasang. Tekanan lazim 5–10 atm.
- Nyeri saat inflasi menandakan peregangan adventitia: hentikan inflasi, jangan ditambah, dan pertimbangkan balon lebih kecil karena risiko diseksi atau perforasi.
- Bila balon mengembang penuh tetapi terjadi elastic recoil, stent dapat dipasang; bila waist tidak dapat dihilangkan, stent jangan dipasang.
- Prosedur boleh diakhiri bila stenosis sisa < 20%, tidak ada diseksi yang membatasi aliran, dan tidak ada gradien translesional pasca-tindakan.
- Pada pembuluh kecil (< 8 mm), lesi panjang, atau oklusi total, hasil dioptimalkan dengan stent.
- Stent graft (mis. Wallstent) memerlukan sheath 9–11 Fr dan belum disetujui FDA untuk penyakit oklusif iliaka; pakai hanya untuk aneurisma iliaka dan komplikasi seperti ruptur atau perforasi. Ukuran dilebihkan 1–2 mm dari diameter pembuluh.
- Di iliaka eksterna distal gunakan stent nitinol self-expanding karena pembuluh melintasi titik fleksi panggul; untuk femoralis komunis, bedah (endatherectomy) adalah terapi pilihan, atau balon angioplasti bila tindakan perkutan tetap dilakukan.
| Aspek | Balloon-expandable | Self-expanding |
|---|---|---|
| Gaya radial | tinggi | lebih rendah, dapat disesuaikan |
| Foreshortening | minimal | ada, perlu perhitungan |
| Visibilitas | baik | bervariasi; nitinol kurang terlihat, banyak yang memakai marker radiopak |
| Kelemahan khas | diseksi tepi pada pembuluh sangat terkalsifikasi atau stent oversize; dapat terhimpit di area femoralis komunis | apposisi tidak sempurna; kompatibel MRI |
| Contoh | Genesis (Cordis), Express (Boston Scientific), Omnilink (Guidant) | Wallstent dan stent nitinol |
| Lesi yang sesuai | aortoiliaka atau ostial, kalsifikasi berat, bifurkasi | pembuluh tortuos, lesi panjang, area fleksi panggul |
| Indikasi | Rincian |
|---|---|
| Stenting provisional | hasil PTA suboptimal |
| Diseksi ekstensif | flap yang membatasi aliran |
| Gradien translesional sisa | ≥ 10 mmHg |
| Oklusi total | lesi kronis yang berhasil dilewati |
| Rekurensi setelah PTA | stenosis berulang |
| Lokasi ostial | termasuk asal iliaka komunis |
| Kalsifikasi berat | risiko recoil tinggi |
| Lokasi | Ukuran (mm) |
|---|---|
| Arteri iliaka komunis | 8–10 |
| Arteri iliaka eksterna | 7–9 |
| Arteri femoralis komunis | 6–7 |
| Arteri femoralis superfisialis | 5–6 |
| Arteri poplitea | 4–5 |
- ACC/AHA 2005 menetapkan Class I untuk stenting sebagai terapi primer stenosis dan oklusi arteri iliaka komunis maupun eksterna.
- Stenting provisional juga diindikasikan sebagai terapi penyelamat bila hasil dilatasi balon suboptimal: gradien translesional menetap > 5 mmHg, stenosis sisa > 50%, atau diseksi yang membatasi aliran.
- Beberapa operator menganggap stenting sebagai terapi primer untuk semua lesi aortoilaka tanpa memandang karakteristik lesi.
- Kissing stents di bifurkasi aorta: pakai stent balloon-expandable, inflasi simultan 4–6 atm untuk menghilangkan waist, stent diposisikan 2–5 mm ke dalam lumen aorta distal, deployment 6–8 atm, lalu postdilatasi 8–12 atm dengan balon 1:1 terhadap pembuluh rujukan distal.
- Bila ada penyakit berat aorta distal, stent balloon-expandable besar di aorta distal dipasang lebih dulu sebelum kissing stent iliaka.
- Rekonstruksi bifurkasi dapat menyulitkan akses kontralateral di masa depan — minimalkan protrusi stent iliaka ke aorta distal.
- Nyeri punggung saat inflasi berarti hentikan dan kecilkan balon: tanda peregangan adventitia yang predisposisi ruptur.
Hasil jangka panjang & komplikasi
- Komplikasi angioplasti aortoilaka relatif jarang (< 6%); tersering di lokasi akses: perdarahan lokal atau retroperitoneal, pseudoaneurisma, dan fistula arteriovenosa.
- Komplikasi prosedural lain: oklusi trombosis, diseksi mayor, ruptur pembuluh, embolisasi distal, dan masalah perangkat. Angioplasti ulang diindikasikan untuk oklusi trombosis.
- Ruptur arteri iatrogenik: insiden 0,8%; faktor risiko kalsifikasi, oklusi total, dan perangkat oversize. Tangani dengan reinflasi balon di dalam lesi (tamponade balon) atau covered stent, reversal heparin dengan protamin, resusitasi volume, dan siapkan bedah vaskular.
- Embolisasi distal simtomatik terjadi pada rata-rata 4% intervensi iliaka; risiko meningkat pada oklusi kronis dan lesi tidak stabil.
- PTA lesi iliaka fokal: sukses teknis dan klinis akut > 90%; patensi 1, 3, dan 5 tahun berturut-turut sekitar 75–95%, 60–90%, dan 55–85%.
- Prediktor hasil baik: lesi pendek/fokal, pembuluh besar, iliaka komunis (dibanding eksterna), kategori Rutherford rendah (klaudikasio, bukan iskemia tungkai), dan runoff distal yang baik.
- Pada stenosis kategori 1 atau 2, sukses teknis keseluruhan dapat mencapai 95%; patensi 5 tahun 80–85% untuk lesi pendek ideal, turun menjadi 65–75% pada stenosis kategori 3.
- Tegtmeyer dkk (seri PTA terbesar): sukses teknis 93%, patensi primer 7,5 tahun 85%, komplikasi perioperatif 10% — namun hanya 3% kasus berupa oklusi total.
- Dutch Iliac Stent Trial: strategi stenting provisional sah sebagai alternatif stenting rutin bila tidak ada gradien pasca-prosedur dan tidak ada komplikasi setelah angioplasti.
- Oklusi iliaka total (Johnston dkk): sukses 82%, patensi 3 tahun 59%. Reyes dkk: sukses 92%, patensi 2 tahun 73%, komplikasi mayor 6% (4 embolisasi distal, 1 perdarahan masif), komplikasi lambat 12%.
- Debulking laser Excimer sebelum PTA/stent: sukses teknis 90%; patensi primer 84% (1 tahun), 81% (2 tahun), 78% (3 tahun), 76% (4 tahun).
- Kissing stent bifurkasi: sukses teknis 100%; patensi 1, 3, dan 5 tahun 85%, 72%, 64% untuk stenting vs 89%, 86%, 86% setelah bedah.
- Indikasi revaskularisasi aortoilaka: (1) meredakan iskemia tungkai simtomatik — klaudikasio yang membatasi gaya hidup, nyeri istirahat, ulkus tak sembuh, gangren, atau blue toe syndrome; (2) mempertahankan atau memulihkan inflow sebelum bypass distal; (3) menyiapkan akses pada stenosis iliaka derajat tinggi yang mengancam iskemia saat intervensi transfemoral.
- Alat akses ipsilateral: jarum 18–19 G, sheath 5–6 Fr, Glidewire 0,035 inci/180 cm, kateter pigtail dan JR4, Amplatz super stiff 0,035 inci/260 cm, balon dan stent seperti pendekatan lain.
- Alat cross-over: 0,035 inci Amplatz super stiff, sheath Balkin 6-Fr 40 cm atau Rabbe 55 cm, balon dan stent sama dengan pendekatan ipsilateral.
- Alat akses brakialis: manifold, sheath hemostatik 6–7 Fr 90 cm, kateter diagnostik Multipurpose atau JR4 5–6 Fr, guiding catheter 6–7 Fr 100 cm atau Shuttle 6-Fr 90 cm, Glidewire soft tip 260–300 cm, exchange wire 260 cm, Touhy-Borst, balon predilatasi dan stent dengan shaft 135 atau 142 cm.
- Pemilihan wire: sistem 0,035 inci (Wholey, Magic Torque) sesuai untuk aortoilaka; sistem 0,014 inci berguna untuk predilatasi lesi sangat stenotik.
- Penetrasi oklusi total: beberapa teknik memakai jarum lidokain sebagai penuntun akses femoralis ipsilateral, lalu Glidewire dieksternalisasi lewat groin dan balon dimajukan melalui wire tersebut; oklusi non-ostial iliaka komunis dianjurkan lewat pendekatan cross-over untuk meminimalkan diseksi aorta distal.
- Salvage iliaka interna pada satu arteri: hindari stent jail; umumnya ostium iliaka interna masih dapat diakses melalui strut stent bila plak bergeser.
- Kesimpulan: revaskularisasi perkutan adalah terapi lini pertama penyakit oklusif aortoilaka; bila gagal, intervensi bedah lanjutan tetap dapat dikerjakan. PTA pada arteri iliaka “donor” juga dipakai untuk menjaga inflow pada pasien yang menjalani revaskularisasi bedah distal.
Kuis Akhir — Aorta Torakalis, EVAR, dan Intervensi Aortoilaka
1. Zona Z2 pada aorta toraks didefinisikan sebagai…
Z3 adalah zona dalam 2 cm dari asal subklavia kiri, Z4 mulai 2 cm distal subklavia kiri, Z2 melintasi asal subklavia sampai asal karotis komunis kiri, Z1 dari karotis komunis kiri sampai innominata, dan Z0 proksimal melintasi asal innominata. Bab 9, hal. buku 178
2. Endoleak tipe II menurut Tabel 11-4 adalah…
Tipe I adalah kebocoran di penambatan (perigraft), tipe II aliran retrograde dari cabang dan biasanya diobservasi lalu diembolisasi bila sak membesar, tipe III kebocoran antar-modul atau robekan kain, tipe IV rembesan kain sampai 30 hari, dan tipe V endotension. Bab 11, hal. buku 248
3. Yang termasuk lesi iliaka TASC tipe D adalah…
TASC D meliputi oklusi unilateral yang melibatkan iliaka komunis sekaligus eksterna, oklusi iliaka eksterna bilateral, dan penyakit difus aorta serta kedua arteri iliaka; pilihan A adalah tipe A, B adalah tipe B, dan C adalah tipe C. Bab 12, hal. buku 259