Aorta

Bab 9 — Stent-Graft Aorta Torakalis (TEVAR)

Referensi: Bab 9, hal. buku 178–201.

 Pesan utama Penambatan stent-graft toraks ditentukan zona: Z3–Z4 paling aman, Z0–Z2 menuntut revaskularisasi cabang lebih dulu.

Zona penambatan Z0–Z4

Zona dinomori dari distal ke proksimal; setiap batas adalah asal cabang aorta. Ujung proksimal dan distal stent-graft wajib mendarat di dinding aorta normal.

  • Z0 — proksimal melintasi asal arteri innominata.
  • Z1 — dari asal karotis komunis kiri sampai asal arteri innominata.
  • Z2 — melintasi asal subklavia kiri sampai asal karotis komunis kiri.
  • Z3 — dalam 2 cm dari asal subklavia kiri.
  • Z4 — mulai 2 cm distal subklavia kiri; segmen lurus dekat vertebra, paling disukai.
  • Tiap level torakal T4–T12 mengandung sepasang arteri interkostal; L1–L2 sejajar asal arteri mesenterika superior dan renal.
Peta zona penambatan stent-graft aorta toraks Z0 sampai Z4 Diagram lima zona aorta toraks dari proksimal Z0 di atas arteri innominata sampai distal Z4 dua sentimeter di distal arteri subklavia kiri, beserta batas asal tiap cabang. Z0 Z1 Z2 Z3 Z4 innominata karotis kiri subklavia kiri 2 cm distal subklavia
Diagram — Zona penambatan Z0–Z4; batas tiap zona adalah asal cabang aorta. [ Bab 9, hal. buku 178]
Gambar 9-1: zona penambatan anatomis untuk penempatan stent-graft di arkus dan aorta toraks desenden
Gambar 9-1 — Zona penambatan anatomis arkus dan aorta toraks desenden (pindaian asli). [ Bab 9, hal. buku 179]

Bila cabang ikut tertutup

  • Tutup Z2 (subklavia kiri): bypass karotis–subklavia dengan ligasi proksimal, atau transposisi subklavia–karotis.
  • Tutup Z1: bypass karotis–karotis ditambah bypass karotis kiri–subklavia, ligasi karotis komunis dan subklavia kiri; alternatif bypass femoroaksilaris.
  • Kontraindikasi anatomis: leher < 15 mm di distal subklavia atau di atas celiac/mesenterika, trombus aorta berlebih, tortuositas aorta toraks ekstrem, akses iliaka buruk.
  • Butuh ≥ 20 mm dinding aorta normal sebagai zona friksi; oversize 10–15% (degeneratif 10–20%).
  • Presisi penempatan dibantu hipotensi terkendali atau henti jantung singkat dengan adenosin.
  • Risiko iskemia korda tinggi (riwayat perbaikan AAA, cakupan segmen panjang, hipotensi perioperatif): drainase cairan serebrospinal, dipertahankan 48 jam atau lebih.
  • Endoleak pasca-pemasangan dideteksi dan ditangani memakai TEE Doppler warna bersama fluoroskopi dan angiografi.

Morfologi layak & klasifikasi Crawford

Morfologi aneurisma: fusiform (seluruh sirkumferens, simetris) atau sakular (menonjol pada sebagian dinding).

  • Crawford I — dari interkostal keenam (dekat subklavia kiri) sampai di atas arteri renalis.
  • Crawford II — dari interkostal keenam sampai bifurkasi aorta.
  • Crawford III — paruh distal aorta toraks desenden, meluas ke sebagian aorta abdominalis.
  • Crawford IV — umumnya melibatkan seluruh aorta abdominalis.
Tabel 9-2 — Morfologi dan kondisi pasien yang layak untuk stent-graft aorta toraks [ Bab 9, hal. buku 181]
SyaratNilai / kriteria
Leher proksimal dari subklavia kiri≥ 2 cm (dapat diubah dengan transposisi subklavia)
Diameter leher proksimal dan distal18–42 mm
Diameter aneurisma maksimal≥ 6 cm
Jenis aneurismatorakoabdominal Crawford tipe I
Harapan hidup> 6 bulan
Kondisi pasienusia lanjut, risiko tinggi atau tidak layak bedah, PPOK, penyakit koroner/karotis berat, insufisiensi renal
Akses vaskulariliaka memadai, tanpa tortuositas, stenosis, atau trombus
Trombus aortatidak berlebihan
Kompresi bronkus atau esofagustidak ada

Kapan TEVAR, kapan bedah terbuka

  • Keputusan perbaikan berbasis gejala, ukuran, laju pertumbuhan, komorbiditas, dan harapan hidup; konsensus: perbaikan bila diameter > 6 cm.
  • Laju tumbuh rata-rata 0,1 cm/tahun, lebih cepat pada aorta desenden, aneurisma yang sudah didiseksi, dan sindrom Marfan.
  • Pada diameter 6 cm, risiko tahunan: ruptur 3,6%, diseksi 3,7%, kematian 10,8%, gabungan ketiganya 14,1%.
  • Sebagian besar TAA asimtomatik dan ditemukan insidental; gejala muncul karena penekanan struktur sekitar (trakea, bronkus, saraf laring rekuren, esofagus).
  • CT kontras dan MR angiografi adalah modalitas pilihan untuk deteksi dan pengukuran; TEE hanya unggul untuk akar aorta dan evaluasi Marfan.
  • TEVAR dipilih pada pasien risiko tinggi; hanya diterapkan untuk aneurisma di bawah arkus aorta.
  • CTA spiral praoperasi menilai diameter transversal dan longitudinal serta hubungan aneurisma dengan subklavia dan celiac.
Perbandingan hasil TEVAR dan bedah terbuka pada aneurisma aorta toraks desenden [ Bab 9, hal. buku 193]
LuaranTEVARBedah terbuka
Mortalitas 30 hari (Bavaria dkk, 2007)2,1%11,7% (p<0,001)
Mortalitas operatif (Stone dkk, 2006)7,6%15,1%
Iskemia korda spinalis8,6%6,7%
Reintervensi9,7%10,5%
Kelebihantanpa torakotomi dan tanpa cross-clamping aortadata jangka panjang lebih matang; untuk anatomi yang tidak layak

Perangkat & langkah TEVAR

  • Akses tersering: arteri femoralis komunis. Delivery system berdiameter luar 7–9 mm: iliaka minimal 7 mm untuk sistem 22 Fr, 8 mm untuk 25 Fr, 9 mm untuk 27 Fr; lebih kecil → akses retroperitoneal ke aorta.
  • Kateter pigtail 5–6 Fr bercalibrasi lewat femoralis kiri (atau brakialis) ke aorta asendens untuk angiografi diagnostik.
  • Sheath introducer dipasang lewat arteriotomi transversal; Glidewire 0,035 inci dan kateter JR4/pigtail diarahkan ke aorta asendens, lalu ditukar ke Amplatz super stiff 0,035 inci.
  • Heparin 50–100 U/kg atau 5.000 U diberikan setelah angiografi.
  • Deployment memakai teknik overlay angiografi: pusher ditahan, sheath ditarik perlahan.
  • Gore TAG menerima persetujuan FDA 23 Maret 2005 untuk aneurisma aorta toraks desenden; kandidat lain Valiant, Talent, dan Zenith TX2.
  • Prosedur dilakukan di ruang angiografi dengan DSA; tim bedah dan cardiopulmonary bypass siaga.
Lima tahap deployment stent-graft aorta toraks Animasi lima tahap: angiografi diagnostik, pemasangan sheath, positioning dengan overlay, deployment dengan menarik sheath, lalu balloon aposisi dan angiografi akhir. 1 · Pigtail 5–6 Fr ke aorta asendens: angiografi diagnostik 2 · Sheath 20–24 Fr ke arkus; heparin 50–100 U/kg 3 · Overlay angiografi: posisikan graft di zona target 4 · Tahan pusher, tarik sheath perlahan sampai graft terbuka 5 · Balloon aposisi; angiografi akhir cek endoleak
Animasi — Lima tahap deployment stent-graft aorta toraks. [ Bab 9, hal. buku 187–188]
Gambar 9-4: stent-graft toraks komersial, antara lain Gore TAG
Gambar 9-4 — Stent-graft toraks komersial yang beredar (pindaian asli). [ Bab 9, hal. buku 184]

Komplikasi & endoleak

  • Endoleak tipe I (penambatan) komplikasi tersering TEVAR; insiden literatur 0–44%.
  • Tipe I dan III ditangani endovaskular tambahan (inflasi balon, stent-graft kedua) atau konversi bedah; tipe II dan IV umumnya diobservasi.
  • Konversi ke bedah terbuka bila tindakan endovaskular gagal dan diameter TAA bertambah.
  • Postimplantation syndrome (demam, leukositosis, CRP naik) 20–60%; reaksi inflamasi nonspesifik, membaik konservatif dalam 2–10 hari.
  • Komplikasi terkait perangkat dilaporkan 38% (kegagalan penambatan proksimal 8%, distal 6%); komplikasi fatal 4% (ruptur aneurisma, erosi ke esofagus, cedera arteri, perdarahan).
  • Komplikasi lambat: migrasi atau prolaps graft, kinking, endoleak, infeksi, diseksi, ruptur.
  • Surveilans: CT serial saat pulang dan pada 1, 3, 6, 12 bulan, lalu tahunan; posisi dan integritas perangkat juga dipantau dengan foto polos.
Tabel 9-4 — Komplikasi stent-graft TAA endovaskular [ Bab 9, hal. buku 190]
SegeraLambat
Kegagalan ginjalFraktur stent-graft
Infark ususMigrasi atau prolaps ke aneurisma
Emboli ekstremitas bawahInfeksi stent-graft
Ruptur false lumenEndoleak
Paraplegia atau paraparesisEkspansi dan ruptur aneurisma yang ditangani
Embolisasi distalPostimplantation syndrome
Iskemia usus—
Gambar 9-11: kurva survival Kaplan-Meier kelompok endograft dibanding kontrol bedah terbuka
Gambar 9-11 — Kurva survival Kaplan-Meier: kelompok endograft vs kontrol bedah terbuka (pindaian asli). [ Bab 9, hal. buku 193]

Diseksi aorta: kapan distent

  • Klasifikasi: Stanford A setara DeBakey I–II (proksimal, bedah segera); Stanford B setara DeBakey III (distal).
  • Tipe B umumnya konservatif; namun 20–50% mengalami ruptur atau dilatasi false lumen dalam 1–5 tahun, sehingga perlu perbaikan bedah atau endovaskular.
  • Mortalitas bedah terbuka tipe B tinggi (25–51%), sedangkan stent-graft endovaskular 0–25%; intervensi masih terbatas pada kasus komplikata.
  • Indikasi perbaikan tipe B: diseksi tidak stabil (ruptur mengancam, hemotoraks), sindrom malperfusi (renal, hepatik, usus, tungkai), aneurisma ≥ 6 cm, nyeri menetap meski terapi medis optimal.
  • Syarat anatomis: diameter leher proksimal pada aorta normal, leher ≥ 2 cm dari entry tear, cakupan ≥ 10 cm distal dari entry utama, akses iliaka/femoral memadai.
  • Perbedaan penting dari TEVAR aneurisma: oversize minimal 0–10% (0–3 mm) karena dinding aorta rapuh; jangan overinflasi balon.
  • Konfirmasi true lumen dengan IVUS dan teknik “embracing pigtails”; hipotensi 50–60 mmHg atau bradikardia dengan adenosin membantu ekspansi graft dan penyegelan entry.
  • Fenestrasi balon: tusuk flap dari true lumen, balon 12–15 mm × 20–40 mm, 2–3 fenestrasi bila perlu; tambahan rt-PA 4–10 mg untuk trombus; stent self-expanding 14–16 mm bila flap tidak stabil.
Gambar 9-17: luaran stent-graft pada diseksi aorta tipe B, mortalitas 30 hari dan survival keseluruhan
Gambar 9-17 — Luaran stent-graft pada diseksi aorta tipe B: mortalitas 30 hari dan survival keseluruhan (pindaian asli). [ Bab 9, hal. buku 201]
  • Epidemiologi TAA: 2–4× lebih sering pada pria; 60% melibatkan akar atau aorta asendens, 40% desenden, 10% arkus, 10% torakoabdominal; 25% pasien TAA juga punya AAA.
  • Aorta asendens dewasa rata-rata 3–3,5 cm; aorta desenden 2,5 cm; toraks dianggap dilatasi bila > 3,5 cm dan aneurismal bila > 4,5 cm.
  • Penyebab: degenerasi kistik media (asendens) dan aterosklerosis (desenden, 50–75%); sisanya Marfan, Ehlers-Danlos, Takayasu, arteritis sel raksasa, sifilis, mikotik, koarktasi, katup aorta bikuspid.
  • Tabel 9-3 membandingkan karakteristik perangkat (Gore TAG, Medtronic Talent/Valiant, Cook Zenith TX2): bahan graft ePTFE atau poliester, stent nitinol atau baja, profil sheath 20–28 Fr, panjang stent 10–20 cm.
  • Uji VALOR (Talent): sukses prosedural awal 98%, mortalitas 30 hari 8,4%, stroke 8%, paraplegia/paraparesis 5,5% (dua pertiga pulih dalam 6 bulan), endoleak 12% pada 1 bulan dan 10% pada 6 bulan, intervensi sekunder 2,8%.
  • Gore TAG: pada 142 pasien, bebas kematian atau kematian terkait aneurisma 75% dan 97% pada 2 tahun, mortalitas operatif 1,5%.
  • EUROSTAR dan United Kingdom Thoracic Endograft registry (diseksi): 131 pasien, sukses teknis 89%, mortalitas 30 hari 8,4%, paraplegia 0,8%, survival 1 tahun 90%.
  • Meta-analisis 39 seri (609 pasien diseksi): sukses prosedural 98,2%, komplikasi mayor 11,1%, stroke 1,9% vs paraplegia 0,8%; komplikasi lebih tinggi pada diseksi akut vs kronik (21,7 vs 9,1); mortalitas 30 hari 5,3% (akut 9,8% vs kronik 3,2%).
  • Survival pasca-stent-graft tipe B: 6 bulan 90,6%, 1 tahun 89,9%, 2 tahun 88,8%.
  • Perbaikan profilaksis diseksi tipe B tanpa komplikasi masih kontroversial. Sindrom malperfusi terjadi pada 25–40% pasien diseksi; mortalitas bedah terbuka sampai 20%.

Bab 11 — Aneurisma Aorta Abdominalis: EVAR atau Bedah Terbuka

Referensi: Bab 11, hal. buku 237–252.

 Pesan utama EVAR hanya untuk anatomi yang layak — leher ≥ 15 mm, angulasi < 60°, akses iliaka memadai — dan tetap butuh surveilans seumur hidup.

Kapan AAA diperbaiki

  • Indikasi menurut ACC/AHA 2005: AAA infrarenal atau juxtarenal ≥ 5,5 cm → perbaikan, bedah terbuka atau EVAR (Class I, Level of Evidence B).
  • Diameter 5,0–5,4 cm → perbaikan (Class IIa, LoE B).
  • Bedah terbuka untuk kandidat bedah baik atau rata-rata (Class I, LoE B).
  • EVAR untuk pasien berisiko tinggi akibat penyakit kardiopulmonal atau komorbid lain (Class IIa, LoE B).
  • EVAR pada risiko bedah rendah atau rata-rata (Class IIb, LoE B).
  • Asimtomatik < 4 cm: USG tahunan. Diameter 4–5,4 cm: USG tiap 6–12 bulan ditambah CT atau MR kontras.
  • Pertumbuhan > 0,5 cm dalam 6 bulan (growth spurt) atau muncul gejala: perbaikan elektif segera; high risk → EVAR bila anatomi sesuai.
  • Ruptur: perbaikan darurat; EVAR bila anatomi memungkinkan.
Gambar 11-3: algoritma tata laksana aneurisma aorta abdominalis
Gambar 11-3 — Algoritma tata laksana AAA berdasarkan diameter, gejala, dan risiko bedah (pindaian asli). [ Bab 11, hal. buku 237]

Morfologi layak EVAR

Setelah pasien dinilai layak secara fisiologis, kelayakan anatomis menjadi penentu. Inti penilaian: leher proksimal — segmen aorta normal antara asal arteri renal dan sak aneurisma.

Pengukuran morfologi aneurisma aorta abdominalis untuk EVAR Diagram skematis: panjang leher proksimal L1 minimal lima belas milimeter, diameter leher D2 maksimal dua puluh delapan milimeter, angulasi leher kurang dari enam puluh derajat, dan diameter sak aneurisma D3. L1 ≥ 15 mm D2 ≤ 28 mm D3 — sak aneurisma arteri renal angulasi leher < 60°
Diagram — Pengukuran penentu kelayakan EVAR: panjang leher (L1), diameter leher (D2), dan diameter sak (D3). [ Bab 11, hal. buku 239]
Tabel 11-2 — Morfologi AAA yang layak untuk EVAR [ Bab 11, hal. buku 238–239]
Kriteria anatomisAmbang
Panjang leher proksimal (segmen infrarenal normal)≥ 15 mm
Angulasi leher< 60°
Trombus intraluminalmenempati < 90° keliling aorta dan < 2 mm tebal
Diameter leher aorta≤ 28 mm, tanpa bentuk reversed cone
Diameter aorta dan iliakaaorta 14–32 mm; iliaka 8–22 mm
Panjang iliaka distal≥ 10–15 mm
Diameter arteri iliaka eksterna≥ 7 mm (sheath terkecil 20 Fr)
Trombus dan ulserasi arteri iliakatidak ada
Arteri mesenterika superior dan celiacpaten, sehingga IMA boleh di-over-stent
Arteri renalis aksesoritidak ada di segmen aorta yang akan dieksklusi
  • Variabel yang bernilai: diameter, panjang, bentuk leher, kalsifikasi, trombus, dan angulasi sumbu longitudinal leher.
  • Graft di-oversize 15–20% dari diameter sebenarnya di lokasi penambatan proksimal dan distal.
  • Leher pendek (< 15 mm): pilih stent-graft dengan suprarenal bare stent agar penambatan lebih aman.
  • Morfologi pembatas: ekstensi suprarenal, leher tidak layak atau bentuknya salah, trombus leher luas, deviasi aksial besar aorta infrarenal, iliaka sangat tortuos/sempit/stenotik.
  • Sak aneurisma dinilai jumlah dan patensi cabang yang keluar darinya — sumber potensial aliran retrograde (endoleak tipe II).

Langkah EVAR

Lima tahap implantasi stent-graft EVAR Animasi lima tahap EVAR: angiografi dengan pigtail di atas arteri renal, pemasangan main body, wire kontralateral masuk limb pendek, docking limb kontralateral dan balloon aposisi, lalu angiografi akhir. 1 · Pigtail 5-Fr di atas renal; angiografi + penggaris radiopak 2 · Main body bifurcated masuk lewat arteriotomi femoralis 3 · Wire kontralateral dinaikkan ke dalam limb pendek graft 4 · Limb kontralateral didocking; balloon aposisi proksimal 5 · Angiografi akhir: cek endoleak tipe I dan patensi iliaka
Animasi — Lima tahap implantasi stent-graft EVAR (Gambar 11-5). [ Bab 11, hal. buku 240–241]
  • Akses: arteriotomi tunggal atau ganda pada femoralis komunis. Bila femoralis atau iliaka eksterna tidak cukup lebar → akses ekstraperitoneal ke iliaka komunis.
  • Anestesi umum atau lokal, pasien supin pada meja radiolusen; penggaris radiopak di lapangan angiografi untuk kalibrasi.
  • Antikoagulasi: heparin 50–100 U/kg atau 5.000 U; antiplatelet ditahan bila kemungkinan konversi ke bedah terbuka.
  • Tim bedah vaskular harus tersedia di fasilitas yang sama untuk konversi darurat ke bedah terbuka.
  • Penutupan arteri iliaka interna: bila perlu bilateral, lakukan koil embolisasi atau ligasi interval; pertimbangkan bypass ke salah satu iliaka interna untuk mencegah iskemia pelvis, klaudikasio glutea, dan disfungsi ereksi.
  • Stent-graft aorto-uni-iliac: dilengkapi femoro-femoral crossover dan okcluder atau ligasi iliaka komunis kontralateral untuk menghentikan aliran balik ke sak.
  • Pasca-tindakan: perawatan ICU, mobilisasi setelah 48 jam.

Endoleak: klasifikasi & tindakan

Lima tipe endoleak pada stent-graft aorta abdominalis Skema sak aneurisma dengan stent-graft: tipe satu kebocoran di penambatan, tipe dua aliran retrograde dari cabang, tipe tiga kebocoran antar-modul, tipe empat rembesan kain, tipe lima endotension. Ia Ib II III IV I · penambatan (Ia proksimal, Ib distal, Ic occluder) II · aliran retrograde dari cabang (lumbal, IMA) III · sambungan modul atau robekan kain IV · rembesan kain ≤ 30 hari pasca-tindakan V · endotension tanpa endoleak terlihat
Diagram — Lima tipe endoleak: sumber kebocoran menentukan apakah cukup diobservasi atau harus diintervensi. [ Bab 11, hal. buku 248]
Tabel 11-4 — Klasifikasi endoleak dan tatalaksananya [ Bab 11, hal. buku 248]
TipeDefinisiTatalaksana
I — perigraftkebocoran di lokasi penambatan stent-graft (Ia proksimal, Ib distal, Ic di sekitar occluder pada graft uni-iliac)cuff, embolisasi, stent-graft sekunder, bedah terbuka
II — retrogradealiran balik lewat cabang bebas dalam sak (IIa satu cabang, IIb dua cabang atau lebih dengan inflow dan outflow)observasi, embolisasi, ligasi laparoskopik
III — mid-graftkebocoran pada sambungan modul atau robekan/perforasi kain graftstent-graft sekunder
IV — permeabilitasrembesan melalui kain graft yang tidak rusak, sampai 30 hari pasca-tindakankonservatif
V — endotensiontekanan intrasak meningkat tanpa endoleak yang terlihat pada CT kontras tertundatidak diketahui
  • Endoleak tipe I dan III berasal dari perangkat (ukuran graft, pengukuran pembuluh, docking tidak tepat, kain robek) → perlu koreksi.
  • Endoleak tipe II bukan berasal dari perangkat (perfusi dari arteri lumbal atau IMA) → observasi dulu, embolisasi bila sak membesar.
  • Surveilans: CT dan DUS saat pulang, pada 1, 3, 6, 12 bulan, lalu tiap 12 bulan; foto polos abdomen AP dan lateral saat pulang lalu tiap tahun.
  • Yang dipantau: diameter sak dan leher proksimal, endoleak, patensi stent-graft, patensi arteri renal (bila fiksasi suprarenal), patensi iliaka, posisi dan konfigurasi rangka perangkat.

Hasil & cara memilih

  • Bedah terbuka dipertimbangkan bila mortalitas perioperatif diperkirakan < 5% dan harapan hidup > 10 tahun.
  • EVAR dipertimbangkan bila mortalitas bedah > 5%, harapan hidup pendek, atau ada faktor penghalang seperti hostile abdomen.
  • EVAR bersifat paliatif: pasien harus memahami trade-off antara keamanan jangka panjang bedah terbuka dan pemulihan cepat EVAR.
  • EUROSTAR: mortalitas 30 hari pasca-EVAR sekitar 3%; 25–40% pasien mengalami komplikasi yang menuntut intervensi tambahan atau konversi terbuka.
  • DREAM (345 pasien): mortalitas operatif 4,6% bedah terbuka vs 1,2% endovaskular.
  • EVAR-1 (1.082 pasien): 4,7% vs 1,7% (p=0,009). Keduanya menunjukkan operasi lebih singkat, transfusi lebih sedikit, ICU dan rawat inap lebih pendek pada EVAR.
  • EVAR-1 pada 4 tahun: mortalitas keseluruhan tidak berbeda; mortalitas terkait aneurisma 4% (EVAR) vs 7% (bedah).
  • Reintervensi lebih sering pada EVAR (Gambar 11-12), dan menjadi kekhawatiran utama bersama daya tahan perangkat.
  • Perbandingan antarperangkat (Ouriel dkk): oklusi limb tertinggi pada Ancure, endoleak tipe II lebih tinggi dan penyusutan sak lebih jarang pada Excluder, pembesaran sak lebih sering pada Zenith; bebas ruptur 98,7% pada 24 bulan tanpa perbedaan bermakna pada prosedur sekunder, konversi, dan migrasi.
Gambar 11-7: perangkat endovaskular AAA yang beredar
Gambar 11-7 — Perangkat endovaskular AAA: Montefiore, Vanguard, Ancure, dan lainnya (pindaian asli). [ Bab 11, hal. buku 244]
Gambar 11-12: perbandingan luaran bedah terbuka dan perbaikan endovaskular pada aneurisma aorta abdominalis
Gambar 11-12 — Perbandingan luaran bedah terbuka vs endovaskular pada AAA (pindaian asli). [ Bab 11, hal. buku 252]
  • Alat dan bahan prosedur: jarum pungsi Seldinger 18–19 G, sheath hemostatik 5–6 Fr, Angled Glidewire 0,035 inci/180 cm, pigtail 5-Fr/65–100 cm, JR4 atau Multipurpose, Amplatz Super Stiff 0,035 inci/260 cm, introducer 8 Fr dan 12 Fr, balon angioplasti 8–20 mm, balon oklusi aorta, kateter balon stent-graft, embolic coil, snare.
  • Stent-graft tambahan dan cuff ekstender aorta/iliaka berbagai ukuran wajib tersedia untuk menyesuaikan implant dengan anatomi pasien.
  • Perangkat awal yang dibahas: Montefiore Endovascular Grafting System, Vanguard, Ancure, Fortron, Apolo, serta Lifepath (Edwards), Fortron (Cordis), Zenith (Cook), Excluder (Gore), Powerlink (Endologix), AneuRx dan Talent (Medtronic).
  • Karakteristik perangkat bervariasi (Tabel 11-3): bahan graft poliester atau ePTFE; stent nitinol, baja, atau Elgiloy; fiksasi barb atau suprarenal bare stent; profil main body 14–24 Fr; stent lebih panjang dan kaku menyulitkan penyesuaian pada zona penambatan yang berangulasi dan berisiko endoleak atau kinking.
  • Perangkat dengan suprarenal bare stent dipilih pada AAA dengan leher proksimal pendek (< 15 mm).
  • Kasus ilustratif: pria 73 tahun, perokok kronik, PPOK dan hipertensi, nyeri perut dan massa pulsatil; CTA menunjukkan aneurisma infrarenal 59 mm dengan trombus intramural dan lesi ulserasi, ditambah aneurisma arteri iliaka komunis kanan 19 mm; ditangani EVAR AneuRx dan koil embolisasi iliaka interna kanan, demam ringan 1 minggu, pulang hari ke-7.
  • Kesimpulan penulis: EVAR adalah pilihan penting untuk pasien terpilih, terutama risiko bedah tinggi; keputusan terbaik adalah konsensus antara dokter intervensi dan ahli bedah berdasarkan penilaian risiko–manfaat kritis.
  • Tantangan yang masih terbuka: perfusi aneurisma yang menetap (endoleak) dan kelelahan material perangkat.

Bab 12 — Intervensi Aorta, Iliaka, dan Femoralis Komunis

Referensi: Bab 12, hal. buku 256–281.

 Pesan utama TASC A–B cukup endovaskular; TASC C–D umumnya bedah kecuali pasien risiko tinggi, dan ruptur iliaka 0,8% ditangani tamponade balon.

Pola penyakit & anatomi

  • Penyakit oklusif aortoilaka hampir selalu aterosklerotik; lokasinya tersering kedua setelah arteri femoralis superfisialis dan poplitea.
  • Faktor risiko utama merokok dan diabetes, diikuti hipertensi lama dan hiperkolesterolemia. Merokok dan hiperkolesterolemia lebih berperan pada lesi proksimal; diabetes dan hipertensi pada pembuluh di bawah lutut.
  • Trias Leriche: klaudikasio paha atau bokong, pulsasi femoralis menghilang atau melemah, dan disfungsi ereksi.
  • Aterosklerosis tipe I: hanya aorta abdominalis distal dan arteri iliaka komunis (5–10% pasien PAD, lebih sering perempuan).
  • Tipe II: aorta infrarenal, iliaka komunis, dan iliaka eksterna, dapat meluas ke femoralis komunis (35%).
  • Tipe III: aorta infrarenal, iliaka, femoralis, poplitea, dan sirkulasi infrapoplitea — bentuk tersering (55–60%).
  • Kolateral utama dari cabang iliaka interna dan femoralis profunda. Oklusi iliaka komunis: lumbal ipsilateral dan sakral lateral kontralateral → iliaka interna → retrograde ke iliaka eksterna.
  • Oklusi iliaka interna: IMA ke cabang glutea inferior lewat pleksus rektal, lumbal ke arteri iliolumbal, femoralis profunda ke glutea via cabang sirkumfleks femoralis.
  • Oklusi iliaka eksterna: divisi posterior iliaka interna ke femoralis komunis lewat arteri sirkumfleks iliaka profunda, divisi anterior ke cabang sirkumfleks femoralis femoralis profunda, serta kolateral transpelvis.
Tabel 12-1 — Diameter pembuluh aortoilaka normal [ Bab 12, hal. buku 258]
PembuluhDiameter (mm)
Aorta infrarenal14–20
Arteri iliaka komunis8–12
Arteri iliaka eksterna7–10
Arteri femoralis komunis6–7
Gambar 12-1: anatomi angiografis arteri aortoilaka dan asal cabang utamanya
Gambar 12-1 — Anatomi angiografis aortoilaka dan asal cabang utamanya (pindaian asli). [ Bab 12, hal. buku 257]

Klasifikasi TASC & pilihan terapi

Tangga TASC A sampai D untuk lesi arteri iliaka Diagram gradasi TASC: tipe A paling cocok endovaskular, tipe D paling cocok bedah, dengan tipe B dan C sebagai peralihan. endovaskular bedah TASC A · stenosis tunggal < 3 cm (CIA atau EIA) TASC B · stenosis 3–10 cm; oklusi CIA unilateral TASC C · stenosis EIA sampai CFA; oklusi CIA bilateral TASC D · oklusi CIA + EIA; difus aorta dan bilateral
Diagram — Gradasi TASC: makin ke bawah, lesi makin kompleks dan bedah makin diutamakan. [ Bab 12, hal. buku 259]
Tabel 12-2 — Rekomendasi TASC untuk penanganan lesi iliaka [ Bab 12, hal. buku 259]
TipeLesiTerapi yang diutamakan
Astenosis tunggal CIA atau EIA < 3 cm, unilateral atau bilateralendovaskular
Bstenosis tunggal 3–10 cm tidak meluas ke CFA; oklusi CIA unilateral; stenosis bilateral CIA dan/atau EIA 5–10 cm; oklusi EIA unilateral tidak meluas ke CFAendovaskular
Cstenosis EIA unilateral yang meluas ke CFA; oklusi CIA bilateralbedah pada pasien risiko rendah; endovaskular masih dapat dicoba
Doklusi unilateral yang melibatkan CIA dan EIA; oklusi EIA bilateral; penyakit difus aorta dan kedua arteri iliakabedah
  • PTA dan stenting masih boleh dicoba pada tipe C bahkan D di pasien risiko tinggi, karena kegagalan endovaskular jarang menghalangi bypass bedah berikutnya.
  • Stent self-expanding khususnya berguna pada iliaka yang sangat tortuos dan lesi panjang karena menyesuaikan berbagai diameter pembuluh.
  • Dengan pengalaman operator yang baik, panjang dan morfologi lesi iliaka kini kurang berpengaruh pada keberhasilan teknis dan hasil jangka panjang.
  • Oleh karena komplikasi mayor rendah dan hasil jangka panjang baik, revaskularisasi perkutan telah menggantikan bedah untuk sebagian besar penyakit oklusif aortoilaka; aorto-femoral bypass kini dicadangkan untuk penyakit oklusif yang tidak dapat ditangani PTA atau stent.
Gambar 12-3: klasifikasi TASC 2000 untuk lesi iliaka
Gambar 12-3 — Klasifikasi TASC 2000 lesi iliaka (pindaian asli). [ Bab 12, hal. buku 260]

Diagnosis & penilaian hemodinamik

  • Work-up: ankle-brachial index saat istirahat dan setelah uji treadmill, segmental pressure recording, dan Doppler ultrasonografi.
  • CTA spiral dan MRA sangat membantu bila dicurigai oklusi aortoilaka: memberi panjang lesi, lokasi oklusi, tingkat kolateral yang sudah rekanalisasi, derajat kalsifikasi, dan adanya trombus.
  • Stenosis dinilai bermakna secara hemodinamik bila diameter pembuluh pada angiografi berkurang 50–75%.
  • Gradien bermakna: puncak sistolik > 10 mmHg atau rerata > 5 mmHg saat istirahat.
  • Pada kasus meragukan: gradien rerata > 15 mmHg yang menetap (> 60 detik) setelah nitroglycerin intraarteri 200–300 Β΅g.
  • Outflow distal yang buruk dapat menyamarkan gradien karena aliran total rendah — pada kasus ini IVUS diperlukan untuk menilai derajat penyakit.
  • Oklusi akut aorta distal jarang dan hampir selalu akibat embolisasi; gejala: nyeri, pucat, paralisis, dan dingin pada kedua tungkai. CT atau aortografi brakialis darurat diperlukan sebelum embolectomi.

Akses & teknik

Empat pilihan akses intervensi iliaka Animasi empat tahap pemilihan akses: ipsilateral retrograde, cross-over kontralateral, teknik over-the-arch, lalu deployment stent dengan road-mapping. 1 · Ipsilateral retrograde (6-Fr, 5,5 cm): lesi unilateral di atas CFA paling langsung, paling sedikit trauma 2 · Cross-over kontralateral (sheath 6-Fr Balkin 40 cm / Rabbe 55 cm) pilih bila lesi non-ostial, dekat CFA, atau perlu tindakan distal 3 · Over-the-arch: kateter JR4/IMA + Glidewire 0,035 inci 4 · Road-mapping → deploy stent → dilatasi 1:1 balloon:arteri
Animasi — Memilih akses intervensi iliaka: ipsilateral, cross-over, atau brakialis/over-the-arch. [ Bab 12, hal. buku 262–266]
Tabel 12-3 — Rekomendasi akses vaskular untuk intervensi iliaka [ Bab 12, hal. buku 264]
Lokasi lesiAkses yang dianjurkan
Bifurkasi aortaretrograde femoralis komunis bilateral
Iliaka komunis ostialretrograde femoralis komunis ipsilateral atau arteri brakialis
Stenosis iliaka komunis dan eksternaretrograde ipsilateral atau kontralateral femoralis komunis
Oklusi iliaka komunis dan eksternaipsilateral ± kontralateral femoralis komunis, atau brakialis
Femoralis komunisretrograde kontralateral femoralis komunis
Iliaka komunis/eksterna ditambah SFA atau poplitearetrograde kontralateral femoralis komunis
  • Ipsilateral retrograde dipilih untuk lesi unilateral yang berakhir di atas femoralis komunis: paling langsung ke lesi, paling mudah dan paling sedikit trauma.
  • Kontralateral cross-over dianjurkan bila (1) lesi non-ostial atau di iliaka eksterna distal/dekat femoralis komunis, (2) femoralis komunis sakit berat sehingga dapat mengganggu aliran saat sheath dicabut, (3) perlu revaskularisasi yang lebih distal.
  • Cross-over: wire diganti super stiff (Amplatz stiff, Hi-Torque Supracore) lewat kateter 5-Fr untuk membuka sudut bifurkasi, lalu sheath cross-over 6-Fr 40 cm (Balkin) atau 55 cm (Rabbe, SuperArrow-Flex) dimasukkan sampai proksimal lesi.
  • Bifurkasi aorta berangulasi akut atau stenosis di asal iliaka komunis: teknik lebih sulit, gunakan kateter SOS Omni atau glide catheter 4-Fr.
  • Teknik over-the-arch memakai kateter JR4 atau IMA dan Glidewire 0,035 inci untuk lesi iliaka bilateral, terutama bila akses femoralis tidak memungkinkan.
  • Akses brakialis kiri lebih disukai: lebih langsung ke aorta desenden dan menurunkan risiko embolisasi serebral saat melintasi arkus. Pungsi di bagian distal brakialis, di atas fossa antekubital, agar kompresi terhadap humerus efektif; sheath 6-Fr 90 cm (Shuttle) dengan wire 300 cm.
  • Road-mapping dan landmark fluoroskopi wajib saat penempatan dan deployment stent.
  • Stent dilepas perlahan dengan kontrol fluoroskopi kontinu; lesi tandem 10–20 mm terpisah boleh ditutup satu stent panjang.
  • Setelah deployment, dilatasi stent dengan rasio balon:arteri 1:1.
  • Tips “balloon as the introducer”: saat balon predilatasi dikempiskan, sheath dimajukan sampai menutupi seluruh panjang lesi — mencegah stent terembolisasi pada pembuluh yang sangat tortuos atau terkalsifikasi.
  • Salvage arteri iliaka interna: pada pria dengan satu arteri iliaka interna, revaskularisasi sebelum “jailing” stent untuk mencegah impotensi; angioplasti ostium iliaka interna dulu bila ada penyakit sedang di bifurkasi.

Balon atau stent

  • Balon dimajukan menutupi lesi dan dikembungkan untuk menilai waist; waist harus hilang sebelum stent dipasang. Tekanan lazim 5–10 atm.
  • Nyeri saat inflasi menandakan peregangan adventitia: hentikan inflasi, jangan ditambah, dan pertimbangkan balon lebih kecil karena risiko diseksi atau perforasi.
  • Bila balon mengembang penuh tetapi terjadi elastic recoil, stent dapat dipasang; bila waist tidak dapat dihilangkan, stent jangan dipasang.
  • Prosedur boleh diakhiri bila stenosis sisa < 20%, tidak ada diseksi yang membatasi aliran, dan tidak ada gradien translesional pasca-tindakan.
  • Pada pembuluh kecil (< 8 mm), lesi panjang, atau oklusi total, hasil dioptimalkan dengan stent.
  • Stent graft (mis. Wallstent) memerlukan sheath 9–11 Fr dan belum disetujui FDA untuk penyakit oklusif iliaka; pakai hanya untuk aneurisma iliaka dan komplikasi seperti ruptur atau perforasi. Ukuran dilebihkan 1–2 mm dari diameter pembuluh.
  • Di iliaka eksterna distal gunakan stent nitinol self-expanding karena pembuluh melintasi titik fleksi panggul; untuk femoralis komunis, bedah (endatherectomy) adalah terapi pilihan, atau balon angioplasti bila tindakan perkutan tetap dilakukan.
Tabel 12-5 — Perbandingan stent balloon-expandable dan self-expanding untuk intervensi iliaka [ Bab 12, hal. buku 267]
AspekBalloon-expandableSelf-expanding
Gaya radialtinggilebih rendah, dapat disesuaikan
Foreshorteningminimalada, perlu perhitungan
Visibilitasbaikbervariasi; nitinol kurang terlihat, banyak yang memakai marker radiopak
Kelemahan khasdiseksi tepi pada pembuluh sangat terkalsifikasi atau stent oversize; dapat terhimpit di area femoralis komunisapposisi tidak sempurna; kompatibel MRI
ContohGenesis (Cordis), Express (Boston Scientific), Omnilink (Guidant)Wallstent dan stent nitinol
Lesi yang sesuaiaortoiliaka atau ostial, kalsifikasi berat, bifurkasipembuluh tortuos, lesi panjang, area fleksi panggul
Tabel 12-6 — Indikasi stenting pada penyakit aortoilaka [ Bab 12, hal. buku 268]
IndikasiRincian
Stenting provisionalhasil PTA suboptimal
Diseksi ekstensifflap yang membatasi aliran
Gradien translesional sisa≥ 10 mmHg
Oklusi totallesi kronis yang berhasil dilewati
Rekurensi setelah PTAstenosis berulang
Lokasi ostialtermasuk asal iliaka komunis
Kalsifikasi beratrisiko recoil tinggi
Tabel 12-4 — Ukuran balon yang dianjurkan berdasarkan lokasi [ Bab 12, hal. buku 267]
LokasiUkuran (mm)
Arteri iliaka komunis8–10
Arteri iliaka eksterna7–9
Arteri femoralis komunis6–7
Arteri femoralis superfisialis5–6
Arteri poplitea4–5
  • ACC/AHA 2005 menetapkan Class I untuk stenting sebagai terapi primer stenosis dan oklusi arteri iliaka komunis maupun eksterna.
  • Stenting provisional juga diindikasikan sebagai terapi penyelamat bila hasil dilatasi balon suboptimal: gradien translesional menetap > 5 mmHg, stenosis sisa > 50%, atau diseksi yang membatasi aliran.
  • Beberapa operator menganggap stenting sebagai terapi primer untuk semua lesi aortoilaka tanpa memandang karakteristik lesi.
  • Kissing stents di bifurkasi aorta: pakai stent balloon-expandable, inflasi simultan 4–6 atm untuk menghilangkan waist, stent diposisikan 2–5 mm ke dalam lumen aorta distal, deployment 6–8 atm, lalu postdilatasi 8–12 atm dengan balon 1:1 terhadap pembuluh rujukan distal.
  • Bila ada penyakit berat aorta distal, stent balloon-expandable besar di aorta distal dipasang lebih dulu sebelum kissing stent iliaka.
  • Rekonstruksi bifurkasi dapat menyulitkan akses kontralateral di masa depan — minimalkan protrusi stent iliaka ke aorta distal.
  • Nyeri punggung saat inflasi berarti hentikan dan kecilkan balon: tanda peregangan adventitia yang predisposisi ruptur.

Hasil jangka panjang & komplikasi

  • Komplikasi angioplasti aortoilaka relatif jarang (< 6%); tersering di lokasi akses: perdarahan lokal atau retroperitoneal, pseudoaneurisma, dan fistula arteriovenosa.
  • Komplikasi prosedural lain: oklusi trombosis, diseksi mayor, ruptur pembuluh, embolisasi distal, dan masalah perangkat. Angioplasti ulang diindikasikan untuk oklusi trombosis.
  • Ruptur arteri iatrogenik: insiden 0,8%; faktor risiko kalsifikasi, oklusi total, dan perangkat oversize. Tangani dengan reinflasi balon di dalam lesi (tamponade balon) atau covered stent, reversal heparin dengan protamin, resusitasi volume, dan siapkan bedah vaskular.
  • Embolisasi distal simtomatik terjadi pada rata-rata 4% intervensi iliaka; risiko meningkat pada oklusi kronis dan lesi tidak stabil.
  • PTA lesi iliaka fokal: sukses teknis dan klinis akut > 90%; patensi 1, 3, dan 5 tahun berturut-turut sekitar 75–95%, 60–90%, dan 55–85%.
  • Prediktor hasil baik: lesi pendek/fokal, pembuluh besar, iliaka komunis (dibanding eksterna), kategori Rutherford rendah (klaudikasio, bukan iskemia tungkai), dan runoff distal yang baik.
  • Pada stenosis kategori 1 atau 2, sukses teknis keseluruhan dapat mencapai 95%; patensi 5 tahun 80–85% untuk lesi pendek ideal, turun menjadi 65–75% pada stenosis kategori 3.
  • Tegtmeyer dkk (seri PTA terbesar): sukses teknis 93%, patensi primer 7,5 tahun 85%, komplikasi perioperatif 10% — namun hanya 3% kasus berupa oklusi total.
  • Dutch Iliac Stent Trial: strategi stenting provisional sah sebagai alternatif stenting rutin bila tidak ada gradien pasca-prosedur dan tidak ada komplikasi setelah angioplasti.
  • Oklusi iliaka total (Johnston dkk): sukses 82%, patensi 3 tahun 59%. Reyes dkk: sukses 92%, patensi 2 tahun 73%, komplikasi mayor 6% (4 embolisasi distal, 1 perdarahan masif), komplikasi lambat 12%.
  • Debulking laser Excimer sebelum PTA/stent: sukses teknis 90%; patensi primer 84% (1 tahun), 81% (2 tahun), 78% (3 tahun), 76% (4 tahun).
  • Kissing stent bifurkasi: sukses teknis 100%; patensi 1, 3, dan 5 tahun 85%, 72%, 64% untuk stenting vs 89%, 86%, 86% setelah bedah.
Gambar 12-17: revaskularisasi perkutan bifurkasi aortoilaka
Gambar 12-17 — Revaskularisasi perkutan bifurkasi aortoilaka (pindaian asli). [ Bab 12, hal. buku 277]
  • Indikasi revaskularisasi aortoilaka: (1) meredakan iskemia tungkai simtomatik — klaudikasio yang membatasi gaya hidup, nyeri istirahat, ulkus tak sembuh, gangren, atau blue toe syndrome; (2) mempertahankan atau memulihkan inflow sebelum bypass distal; (3) menyiapkan akses pada stenosis iliaka derajat tinggi yang mengancam iskemia saat intervensi transfemoral.
  • Alat akses ipsilateral: jarum 18–19 G, sheath 5–6 Fr, Glidewire 0,035 inci/180 cm, kateter pigtail dan JR4, Amplatz super stiff 0,035 inci/260 cm, balon dan stent seperti pendekatan lain.
  • Alat cross-over: 0,035 inci Amplatz super stiff, sheath Balkin 6-Fr 40 cm atau Rabbe 55 cm, balon dan stent sama dengan pendekatan ipsilateral.
  • Alat akses brakialis: manifold, sheath hemostatik 6–7 Fr 90 cm, kateter diagnostik Multipurpose atau JR4 5–6 Fr, guiding catheter 6–7 Fr 100 cm atau Shuttle 6-Fr 90 cm, Glidewire soft tip 260–300 cm, exchange wire 260 cm, Touhy-Borst, balon predilatasi dan stent dengan shaft 135 atau 142 cm.
  • Pemilihan wire: sistem 0,035 inci (Wholey, Magic Torque) sesuai untuk aortoilaka; sistem 0,014 inci berguna untuk predilatasi lesi sangat stenotik.
  • Penetrasi oklusi total: beberapa teknik memakai jarum lidokain sebagai penuntun akses femoralis ipsilateral, lalu Glidewire dieksternalisasi lewat groin dan balon dimajukan melalui wire tersebut; oklusi non-ostial iliaka komunis dianjurkan lewat pendekatan cross-over untuk meminimalkan diseksi aorta distal.
  • Salvage iliaka interna pada satu arteri: hindari stent jail; umumnya ostium iliaka interna masih dapat diakses melalui strut stent bila plak bergeser.
  • Kesimpulan: revaskularisasi perkutan adalah terapi lini pertama penyakit oklusif aortoilaka; bila gagal, intervensi bedah lanjutan tetap dapat dikerjakan. PTA pada arteri iliaka “donor” juga dipakai untuk menjaga inflow pada pasien yang menjalani revaskularisasi bedah distal.

Kuis Akhir — Aorta Torakalis, EVAR, dan Intervensi Aortoilaka

1. Zona Z2 pada aorta toraks didefinisikan sebagai…

Z3 adalah zona dalam 2 cm dari asal subklavia kiri, Z4 mulai 2 cm distal subklavia kiri, Z2 melintasi asal subklavia sampai asal karotis komunis kiri, Z1 dari karotis komunis kiri sampai innominata, dan Z0 proksimal melintasi asal innominata.  Bab 9, hal. buku 178

2. Endoleak tipe II menurut Tabel 11-4 adalah…

Tipe I adalah kebocoran di penambatan (perigraft), tipe II aliran retrograde dari cabang dan biasanya diobservasi lalu diembolisasi bila sak membesar, tipe III kebocoran antar-modul atau robekan kain, tipe IV rembesan kain sampai 30 hari, dan tipe V endotension.  Bab 11, hal. buku 248

3. Yang termasuk lesi iliaka TASC tipe D adalah…

TASC D meliputi oklusi unilateral yang melibatkan iliaka komunis sekaligus eksterna, oklusi iliaka eksterna bilateral, dan penyakit difus aorta serta kedua arteri iliaka; pilihan A adalah tipe A, B adalah tipe B, dan C adalah tipe C.  Bab 12, hal. buku 259

Ed. Snoopy Medical Journal — sumber: Limpijankit T., Manual of Carotid and Peripheral Vascular Interventions, 2008. Ringkasan edukatif; verifikasi pada sumber primer.